Laga derby antara Persibo kontra Persela selalu menarik perhatian. Sehingga banyak penonton yang rela datang berbondong-bondong ke stadion.
Seperti yang terjadi pada 23 Januari 2005 lalu. Pertandingan Laskar Angling Dharma melawan Laskar Joko Tingkir dalam babak penyisihan Grup C Piala Gubernur Jatim III di Stadion Letjend Soedirman (SLS) dihadiri sekitar 20 ribu penonton. Penonton yang meluber hingga pinggir lapangan membuat laga tersebut terpaksa dihentikan pada menit 17.
Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada 24 Januari 2005, tanda-tanda laga tidak berjalan mulus sudah terlihat sebelum pertandingan. Ribuan LA mania terlebih meluber ke pinggir lapangan karena stadion sisi utara telah penuh.
Sebagian di antara mereka masuk ke stadion dengan memanjat tembok dengan tali plastik hingga spanduk. Diperkirakan sekitar 4.500 penonton masuk tanpa menggunakan tiket. Jumlah yang banyak membuat aparat kemanan gabungan polisi, TNI, dan Satpol PP kewalahan.
Penonton yang meluber hingga pinggir lapangan membuat inspektur pertandingan sempat menunda laga. Kemudian meminta suporter Persela masuk ke balik pagar pembatas penonton. Bahkan, Ketua Umum Persela sekaligus Bupati Lamongan kala itu Masfuk sempat turun tangan. Didampingi Bendahara Persela Fadeli, berjalan menuju suporter. Lalu memberi isyarat tangan meminta suporter kembali ke balik pagar pembatas.
Beberapa saat kemudian, ratusan LA Mania berlari menuju tribun timur stadion sebelah utara. Membuat jarak suporter Persela tersebut dengan Boromania hanya sekitar 20 meter. Kondisi itu berakibat aksi saling lempar. Aparat keamanan yang turun tangan sempat melerai. Begitu situasi mereda, wasit membunyikan peluit kick off.
Pada menit-menit awal babak pertama kedua tim saling melancarkan serangan. Saat pertandingan berlangsung, sesekali dua kelompok suporter saling ejek melalui nyanyian. Setelah itu, situasi di tribun penonton kian memanas.
Puncaknya pada menit ke 17, Komisi Disiplin PSSI meminta wasit menghentikan pertandingan. Alasannya, di sektor utara terjadi bentrokan antarsuporter yang berimbas pada lemparan batu ke para pemain.
Bahkan bentrokan tersebut memakan korban seorang bocah berusia 10 tahun, Erik Kurniawan, warga Desa Sidobandung, Kecamatan Kapas. Anak tersebut harus dirawat di RS Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro setelah kepalanya terkena lemparan batu.
Meski demikian, suporter kedua kesebelasan tetap tak bisa dikendalikan. Mereka saling serang membuat aparat langsung bertindak, mengamankan pelaku penyerang. Bahkan seorang polisi sempat terjungkal di lapangan terkena serangan suporter. Sementara pemain kedua kesebelasan langsung diamankan ke dalam ruang ganti.
Untuk meredakan situasi, Ketua Umum Persibo kala itu dijabat Suratin sempat beberapa kali berbicara serius dengan inspektur pertandingan. Juga korlap suporter kedua kesebelasan diundang untuk musyawarah yang diikuti Masfuk dan Suratin. Kedua kemudian bergantian naik ke atas meja panitia untuk menenangkan suporter dengan pengeras suara, namun tak berdampak banyak.
Akhirnya panpel memutuskan untuk menunda laga. Pengumuman tersebut justru membuat suporter Persela tak puas. Mereka menerobos pagar SLS. Bahkan membuat pagar besi sisi utara stadion roboh. Meski demikian, perlahan suporter Persela meninggal stadion.
Ternyata, bentrokan antar suporter masih terjadi di luar stadion. Akibatnya, lalu lintas jalan menuju Surabaya sempat macet satu jam. Keadaan mulai normal ketika petugas kepolisian datang mengamankan lalu lintas. Sedangkan di Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro dua rumah warga dirusak suporter Persela.
Laga yang terhenti kemudian dilanjutkan pada esok harinya yaitu 24 Desember 2005. Pertandingan tetap berlangsung di SLS.
''Keputusan menyatakan laga dilanjutkan pukul 08.00 tanpa penonton," ujar Project Officer Persela Yuhronur Efendi.
Sementara itu, salah satu panpel pertandingan Nasuki mengatakan jumlah penonton diperkirakan menebus 20 ribu orang. Namun panpel hanya mencetak 9 ribu tiket. Sehingga menunjukkan banyak suporter masuk stadion tanpa tiket.
''Sudah kami duga pertandingan seperti ini (penonton masuk tanpa tiket dan terjadi kericuhan) ketika melawan Persela," ujarnya. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana