Ketekunan Haryo Radityo Dhanurendro menjadi kompas langkahnya. Dengan semangat dan keberanian, sukses meraih medali emas International Round ISOCSEA 2025 di Osaka, Jepang.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
USIANYA baru tujuh tahun, namun langkahnya telah menembus batas benua. Ketekunan, rasa ingin tahu, dan keberanian menghadapi tantangan membawa Haryo Radityo Dhanurendro berdiri di podium dunia.
Siswa kelas 1 SDI Luqman Al Hakim Bojonegoro tersebut berhasil mencatatkan prestasi gemilang. Dengan meraih medali emas International Round ISOCSEA (International Science Olympiad Competition of Southeast Asia) di Osaka Japan 2025.
Radit sapaannya, bukan bocah biasa. Sejak kecil, anak laki-laki tinggal di Jalan Cendekia Bojonegoro ini sudah menyukai aktivitas berbau science.
Dalam tiga bulan terakhir, ia menekuni dunia science dengan kesungguhan yang jarang dimiliki anak seusianya. Berawal dari kegemaran menonton tayangan berbau science, rasa penasaran itu tumbuh menjadi ketekunan. Membawanya mulai mengikuti satu per satu kompetisi di tingkat nasional. Kemudian, melebarkan langkah hingga tingkat Internasional.
Deretan prestasi membanggakan mewarnai prosesnya. Mulai dari Asian Science and Mathematics Olympiad (ASMO) National Round Science Gold Medal 2025; ASMO National Round English Silver Medal 2025; ISOCSEA National Round Diamond Award 2025; International Science Challenge Olympiad (ISCO) National Round Gold Medal 2025; dan Junior English Olympics (JEO) National Round Silver Medal 2025.
Puncaknya di Osaka, Jepang. International Round ISOCSEA menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Radit menggenggam Gold Medal, hasil dari ketekunan yang terus dipupuk hingga berbuah keberhasilan.
“Pertanyaannya sulit-sulit,” katanya.
Meski sulit, namun disitulah letak tantangannya. Dan, Radit, berhasil melewatinya dengan baik. Soal-soal yang dianggapnya sulit bisa ia selesaikan dengan baik.
Bukan hanya sekadar tentang soal yang menantang, tetapi juga perjumpaah. Teman-teman baru dari beragai negara memperkaya pengalamannya. Sekaligus, menjadi bagian paling disuka dari kompetisi tingkat internasional yang diikutinya.
‘’Paling suka berteman dengan teman baru dari negara lain,’’ terangnya.
Di balik gemilangnya prestasi yang terukir, ada dukungan yang menguatkan. Bapak, Bunda, adik tercinta Narend, serta para guru les menjadi sandaran. Mereka adalah tangan-tangan yang menjaga api semangat tetap menyala.
Medali emas di Osaka bukanlah garis akhir, melainkan tanda bahwa mimpi dapat bersemi lebih lebat lagi. Di usianya yang masih anak-anak, Radit mulai merawat mimpinya. Cita-citanya bahkan sudah setua fosil yang ingin ia pelajari kelak. Ia ingin menjadi paleontolog, menyingkap cerita masa lalu dari tulang-tulang purba. Dari Bojonegoro hingga Osaka, langkah kecil itu terus bergerak. Pelan, pasti, dan penuh harap menuju prestasi-prestasi baru yang menanti di depan.
‘’Semoga bisa berkembang dengan prestasi-prestasi baru,’’ harapnya. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana