Pasangan suami istri Muhammad Rizal Aswan dan Anik Suci Lestari salah satu perintis Cabang Olahraga Persatuan Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Cabor Perserosi) Bojonegoro.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
Rabu (12/11) Sore itu , di lintasan sepatu roda kompleks Stadion Letjend H. Sudirman, deru roda kecil berpacu dengan sorak semangat.
Belasan anak meluncur, sebagian lain sudah lincah membelah lintasan. Di tengah mereka, Anik Suci Lestari dan suaminya, Muhammad Rizal Aswan, bergerak sigap memberi instruksi.
Pasangan asal Kelurahan Klangon ini tak pernah membayangkan, kebiasaan kecil di akhir pekan bisa menjelma menjadi ruang tumbuh bagi puluhan anak di Bojonegoro.
Segalanya bermula dari hobi sederhana. Rizal Aswan yang sejak kecil akrab dengan sepatu roda, menularkannya kepada sang istri hingga kedua anaknya. “Ceritanya saya sama suami dulu aktif di car free day sekitar tahun 2016, akhirnya mulai banyak teman yang ikutan,” kenangnya.
Kebiasaan yang awalnya hanya mengisi Minggu pagi, pelan-pelan berkembang menjadi kegiatan yang menggerakkan banyak orang. Sebelum akhirnya memutuskan melangkah lebih jauh. “Sampai akhirnya pada 2018, mulai berpikir untuk serius,” tuturnya.
Tak berhenti di arena latihan, mereka ikut menghidupkan kembali Persatuan Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) tingkat kabupaten.
Dahulu hanya ada beberapa anak yang ikut mencoba; kini lintasan stadion menjadi ruang belajar bagi puluhan pesepatu roda cilik. “Saat ini ada sekitar 50 anak dari TK sampai SMP,” ujar Anik.
Mereka datang dengan tujuan berbeda, ada yang ingin latihan fisik, hobi, dan sebagian mulai membidik prestasi. Pasutri yang sempat bekerja di jasa pengiriman barang itu juga menyaksikan bagaimana usaha kecil mereka berbuah hasil.
Tak jarang anak-anak didiknya pulang membawa medali dari berbagai kejuaraan terbuka nasional. “Terdekat bulan November lalu di Jakarta International Open, Juara 1 kategori pemula 100 meter,” ujarnya bangga.
Di lintasan yang dulu hanya menjadi tempat melepas penat, kini tumbuh mimpi-mimpi baru. Dari hobi yang mengalir begitu saja, Anik dan Rizal telah membentuk sebuah ruang bagi anak-anak Bojonegoro untuk melaju, jatuh, bangkit, dan akhirnya menemukan kecepatannya sendiri. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana