Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Radar History: Ketika Badai Mengamuk di Desa Katerban 2003 Silam, Sebabkan Satu Warga Meninggal dan Enam Rumah Roboh

M. Irvan Romadhon • Minggu, 23 November 2025 | 15:00 WIB
BENCANA: Arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro EDISI 8 November 2003 menyuguhkan informais badai puyuh menerjang Bojonegoro dan Tuban.
BENCANA: Arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro EDISI 8 November 2003 menyuguhkan informais badai puyuh menerjang Bojonegoro dan Tuban.

 

Badai puyuh pernah memporakporandakan Desa Katerban, Kecamatan Senori pada Sabtu, 8 November 2003 silam. Berdasarkan arsip Radar Bojonegoro bencana tersebut membuat 6 rumah warga roboh, dan 500 lainnya rusak. Bahkan satu warga bernama Tukinem meninggal dunia akibat tertimbun puing bangunan rumah.


Warga yang rumahnya roboh harus mengungsi ke rumah tetangga dan kerabat. Sementara rumah warga yang rusak ringan mulai dibenahi pada Minggu, 9 November lalu. Sedangkan yang rusak berat seperti atapnya tersapu angin masih dibiarkan.

Sebelum terjadi badai puyuh tersebut, awan tebal menggelantung di atas desa yang berjarak 70 kilometer (KM) arah barat daya Kota Tuban itu. Awan membuat desa terlihat gelap.

Kondiri tersebut tak bertahan lama. Sekitar pukul 17.45, hujan disertai angin kencang datang. Tak jelas dari arah mana badai itu muncul.

Semula embusan angin membentuk pusaran raksasa dengan arah pusaran berlawanan jarum jam tak begitu kencang. Terjangan itu hanya mengempaskan dan mematahkan dahan-dahan pohon serta menggoyangkan rumah warga.

Sesaat kemudian pusaran angin semakin kencang. Rumah-rumah penduduk yang sebagian besar berbentuk bangunan semi permanen tidak hanya digertarkan hebat. Namun atap dan genting juga diterbangkan.

‘’Dari sawah, saya melihat atap-atap rumah dan genting-genting seperti kapas, terbang,” ujar suminan warga setempat.

Warga mulai panik. Mereka berlarian ke luar rumah dan menempel pada benda-benda yang bisa dijadikan perlindungan dari terjangan angin, seperti pohon. Sebagian lagi, memilih tiarap dan berlindung di parit.

Begitu kerasnya suara gemuruh angin disertai suara retakan piung-puing bangunan yang digoyangkan dan diterbangkan, warga tak tahu kalau enam rumah tetangga mereka dirobohkan.

Badai tersebut hanya berlangsung sekitar 15 menit. Setelah berlalu, cuara kembali terang. Begitu situasi normal, warga mulai mengumpulkan keluarga dan kerabat yang bercerai-berai mencari perlindungan. Di sinilah, keberadaan Tukinem dipertanyakan.

Semula, kerabat mencari ke tempat lain. Namun karena tak kunjung ditemukan, warga beramai-ramai mengangkat puing-puing rumahnya. Benar, janda berputra satu tersebut tertindik blandar kayu rumah. Kedua kakinya patah.

Korban mengalami pendarahan hebat. Kemudian dilarikan ke puskesmas Bangilan secepatnya. Namun, nyawanya tak tertolong. Korban mengembuskan napas terakhir di perjalanan.

Kades Katerban kala itu Nyani meminta pemkab turun tangan untuk membantu warga. Kebutuhan mendesak yang diharapkan dari uluran tangan pemerintah. Terutama material bangunan, seperti genting dan kayu.

‘’Ini yang mendesak dibutuhkan warga. Karena tak semua rumah mampu didirikan kembali,” ungkapnya. (irv/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Desa #badai #radar bojonegoro #bangilan #tuban #bojonegoro #senori #bangunan #angin #Pusaran