Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kelompok Perajin Batik Sambiloto: Saat Pesanan Tak Bisa Dipastikan, Sebagian Anggota Pilih Keluar

Dewi Safitri • Selasa, 11 November 2025 | 01:45 WIB
TELATEN: Tatik, Ketua Kelompok Batik Sambiloto sedang membatik.
TELATEN: Tatik, Ketua Kelompok Batik Sambiloto sedang membatik.

Sentuhan tangan dingin ibu-ibu rumah tangga di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas menghasilkan karya batik sambiloto yang menembus pasar internasional.


DEWI SAFITRI, Bojonegoro


AROMA malam batik menyeruak dari halaman belakang rumah di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas. Obrolan ringan campur candaan dari para perajin perempuan menambah hangat suasana.

Kain terbentang dengan warna-warni motif di atasnya menciptakan panorama kecil tentang ketekunan dan cinta yang membatik kehidupan.

Dari tempat itu, lahirlah Batik Sambiloto. Kain-kain berjiwa yang menyimpan kisah, kesabaran, dan kebanggaan.

Tiap guratan canting adalah doa, tiap tetes malam adalah harapan. Tidak sekadar kerajinan, lebih dari itu, merupakan jati diri dan kebanggaan identitas lokal.

Jerih payah dilalui Ketua Kelompok Batik Sambiloto, Tatik, dalam memertahankan dan menumbuhkan usaha batiknya.

Bermula dari mengikuti pelatihan membatik yang digelar oleh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Kemudian, memulai usahanya pada 2011 hingga sekarang.

Guru taman kanak-kanak tersebut merasa batik merupakan budaya lokal yang harus dilestarikan. Juga, diturunkan.

Kemudian, mengajak para ibu-ibu muda untuk bergabung dalam Batik Sambiloto. Belajar dan meneruskan untuk pelestarian seni kerajinan batik.

Tidak selalu berjalan mulus, halang rintang kerap menghadang. Mulai dari sulitnya pemasaran yang berdampak pada sepinya pemesan.

Hingga, sebagian anggotanya keluar, lebih memilih bekerja karena pemesan tidak bisa dipastikan.

Namun, ia tidak menyerah. Usaha demi usaha terus dilakukan. Tekad kuat untuk melanjutkan dan mimpi yang selalu tertanam dalam diri menjadi motivasi.

Dengan semangat yang tak pernah padam. Semesta akhirnya mengabulkan setiap harapan. Pada sekitar 2021 lalu, dukungan dari pertamina datang.

Berupa pelatihan, peralatan, hingga pemasaran. Batik Sambiloto mulai tumbuh dan berkembang.

Bahkan, kini telah mendapat fasilitasi hak paten dari Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan Kabupaten Bojonegoro.

“Waktu didaftarkan namanya Sambiroto, tapi ternyata nama itu sudah dipakai. Jadi, kami ubah menjadi Sambiloto. Maknanya tetap sama,” terangnya.

Nama tersebut diambil karena terinspirasi dari tumbuhan bunga sambiroto. Juga, menjadi motif utama dalam batiknya.

Kini, total terdapat sekitar 20 perajin di Batik Sambiloto. Dengan 11 di antaranya aktif dalam memproduksi. Tidak hanya tembus pada pasar luar kota ataupun nasional.

Dengan ketekunan, Batik Sambiloto berhasil tembus hingga pasar Internasional. Tepatnya, hingga Aljazair.  “Penjualan paling jauh pernah sampai ke Aljazair,” ungkapnya optimistis.

Dia berharap, batik yang merupakan identitas daerah ini bisa semakin terkenal luas. Dicintai dan masuk dalam hati masyarakat. “Semoga juga bisa terus dilibatkan dalam kegiatan daerah,” harapnya. (*/msu)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#warna-warni #Perajin #motivasi #Pelatihan #sambiloto #Motif #batik