Minimnya lapangan pekerjaan membuat banyak orang putar otak. Layaknya Tunggul Aji Prasetya yang memberanikan diri membudidaya buah tin sejak 2022.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
GEN Z kerap dikenal kritis dan mandiri, mengutamakan keseimbangan hidup, dan berani mengambil risiko. Di tengah banyaknya persoalan nasional, salah satunya lapangan pekerjaan membuat rerata gen Z mencoba berbagi pengalaman baru dan tantangan.
Layaknya keputusan dilakukan Tunggul Aji Prasetya, gen Z dari Desa Payaman, Kecamatan Ngraho. Ia berani membuka peluang menjadi pembudidaya buah tin sejak 2022. ’’Awalnya karena hobi berkebun dan mencari pekerjaan susah, akhirnya memilih menjadi petani,” ungkapnya.
Pria kerap disapa Tunggul itu mengaku, tidak ada pendidikan khusus pertanian yang diambil. Ia hanya lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Terinspirasi dari saudara yang juga memiliki kebun buah tin di Kabupaten Blora.
Ia mengaku, ilmu perawatan tanamannya dipelajari secara otodidak. Bibit pun diperoleh dari saudaranya. Dengan telaten ia berhasil merawat, membuahkan, hingga memasarkan dan meraup keuntungan.
Melalui media sosial (medsos) Instagram, TikTok, dan Facebook dengan nama akun tunggul.prasetya dia berhasil meraih pelanggan berbagai daerah. ’’Buah tin ini tidak hanya buahnya yang bisa dikonsumsi atau dijual. Ada buah dan getah. Kami jual juga di marketplace seperti Shopee,” imbuhnya.
Tunggul menuturkan, bisa memanen buah bernama latin ficus carica itu setiap hari, 3-4 kilogram (kg). Serta, getah mencapai sepuluh botol dengan takaran 3 mililiter (ml) per hari. Dia mengaku, ada rencana menambah lahan untuk budidaya, jika pemasaran terus berkembang.
Dari sebelumnya kini menanam lima lahan di pekarangan rumah dan sawah. ’’Kalau prospek pemasaran mau nambah lahan lagi,” katanya. Ia pun bercerita, dalam menjalani usaha ini tidaklah semudah membalik telapak tangan.
Banyak cibiran didapat saat mulai menanam. Cemooh meremehkan pasar yang dianggap tidak jelas sempat terlontarkan. Namun, ia percaya dunia itu luas. Jualan tidak harus bermitra. Ia yakin bisa berjualan dan memasarkan produk di semua platform dan kolaborasi.
’’Awal-awal dulu dapat banyak cibiran dari nandur aneh-aneh enggak jelas dan masih banyak lagi. Tapi, aku percaya dunia itu luas,” yakinnya. Setelah tahu bisnis berjalan memuaskan, lanjut Tunggul, banyak yang mencemooh ingin ikut bermitra. Tapi, ia tolak.
Alasannya, takut jika nantinya tidak bisa merawat. Sedangkan, butuh modal banyak dan ada potensi rugi, dikhawatirkan nanti dia malah disalahkan. Sebagai gen Z pantang menyerah dan siap menerobos hujatan dan tantangan, pria 25 tahun itu memiliki satu prinsip yang selalu dipegang. Yakni terus konsisten dalam berwirausaha. (yna/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana