Berawal menjadi atlet bola tangan pada 2017, Muchamad Farid Baidlowi kini meneruskan perjuangannya sebagai pelatih. Dia bertekad mengembangkan bola tangan jadi olahraga masyarakat.
M. IRVAN RAMADHON, Bojonegoro
MATA Muchamad Farid Baidlowi tak pernah lepas dari gerak gerik bola dan pemain di atas lapangan GOR Utama Bojonegoro pada Sabtu (18/10).
Sesekali Bett, sapaan akrab Muchamad Farid Baidlowi, memberikan instruksi pada pemain di lapangan.
Hal tersebut dilakukan untuk membantu tim Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) Bojonegoro mampu meraih kemenangan dalam kejuaraan provinsi (Kejurprov) Bola Tangan Jawa Timur 2025.
Bett merupakan pelatih tim ABTI Bojonegoro. Pemuda 29 tahun tersebut telah menjadi pelatih sejak 2017 lalu. Atau sudah sekitar delapan tahun menjadi pelatih.
''Sebelumnya atlet bola tangan pada 2016," ungkap pemuda asal Desa Sendangrejo, Kecamatan Dander.
Bett sendiri menjadi atlet ketika cabang olahraga (cabor ) bola tangan baru pertama dibentuk di Bojonegoro pada 2016.
Kemudian memutuskan menjadi palatih bola tangan pada 2017. Kecintaan pada bola tangan membuat Bett tak banyak berpikir ketika mendapat tawaran sebagai pelatih.
''Memang suka olahraga," jelas alumni SMAI Miftahul Huda Sendangrejo tersebut. Sebagai pelatih, Bett ingin memperkenalkan olahraga bola tangan lebih memasyarakat.
Juga membawa tim bola tangan Bojonegoro meraih berbagai prestasi di tingkat provinsi maupun nasional.
Bett sadar perjuangannya untuk mengembangkan bola tangan tak mudah. Terlebih termasuk olahraga yang baru dikalangan masyarakat.
Sehingga perlu tenaga lebih untuk melatih dan memperkenalkan bola tangan ke masyarakat. ''Banyak suka dukanya," ungkap pemuda hobi olahraga tersebut.
Bett sudah banyak mempersembahkan prestasi untuk tim bola tangan Bojonegoro. Mulai Kejurprov hingga Porprov beberapa edisi terakhir tim ABTI Bojonegoro tidak pernah absen meraih prestasi.
Tentu semua tak lepas dari kinerja Bett sebagai pelatih. Menurut Bett melatih bola tangan tak berbeda jauh dengan olahraga lainnya.
Latihan diberikan terfokus pada fisik, teknik, dan taktik. Namun perlu kejelian dalam meramu taktik.
Berkat kegigihan Bett dalam memperkenalkan bola tangan, perkembangan bola tangan di Bojonegoro semakin pesat.
Banyak SMP dan SMA di Kota Ledre sudah memiliki ekstrakurikuler bola tangan. Tentu hal tersebut untuk regenerasi atlet bola tangan ke depan.
Meski begitu, Bett belum puas. Ke depan target prestasi di Porprov masih ingin dicapai. Sehingga, memperpanjang rekor selalu meraih medali di event olahraga paling bergengsi di tingkat provinsi tersebut. (*/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko