Setelah empat kali mencoba, Bowo Sulistyo akhirnya berdiri di puncak podium sebagai juara pertama Lomba Desain Logo Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348. Di balik bentuk sederhana sebuah logo, tersimpan ketekunan, riset panjang, dan impian anak desa di ujung barat Bojonegoro.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
LOGO Hari Jadi Bojonegoro selalu menjadi hal yang ditunggu setiap tahun. Bukan sekadar lambang peringatan, tetapi juga representasi semangat dan identitas daerah.
Tahun ini, karya Bowo Sulistyo, pemuda asal Dusun Ngidung, Desa Sumberagung, Kecamatan Ngraho, menjadi pemenang sayembara bergengsi tersebut.
Butuh waktu yang tidak sebentar hanya untuk memikirkan ide logo tersebut. Bahkan, tak jarang dirinya hanya termenung di depan laptop hanya untuk memikirkan ide, sebelum dieksekusi.
“Perancangan logo untuk HJB ke-348 itu butuh waktu sekitar satu bulan,” ujar Bowo kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Pemuda berusia 25 tahun itu mengaku, prosesnya tidak mudah. Menelusuri logo-logo HJB terdahulu untuk mempelajari makna dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Dari situ, ia berusaha membangun narasi baru yang sejalan dengan tema tahun ini. “Kenapa lama, karena buat mantepin narasi dalam logonya yang dikembangin dari tema tahun ini,” jelasnya.
Bowo menegaskan, desain karyanya bukan sekadar permainan warna dan bentuk, tapi juga memiliki nilai filosofis yang kuat. Ingin menyampaikan pesan bahwa dasar dari tumbuh dan berkembangnya Bojonegoro adalah semangat kebersamaan.
“Saya ingin logo ini membawa narasi bahwa dasar dari tumbuh dan berkembangnya Bojonegoro adalah semangat kebersamaan,” ujarnya.
Perjalanan Bowo menuju juara bukan tanpa liku. Sejak 2022, ia sudah empat kali mengikuti lomba desain logo HJB. Bahkan, pada lomba tahun lalu (2024), karya Bowo nyaris juara dan menempati posisi juara dua.
Namun alih-alih menyerah, kekalahan itu justru menjadi bahan bakar semangatnya. “Sudah empat kali ikut dari 2022. Soalnya saya target, jadi harus juara satu lomba logo HJB,” tegasnya.
Baginya, kemenangan kali ini bukan sekadar soal prestasi, tetapi juga bentuk pembuktian diri. Berhasil menaklukkan tantangan yang dulu sempat membuatnya ragu.
“Saya memang dari awal targetnya juara satu, jadi waktu kemarin cuma dapat juara dua rasanya belum puas,” tambah alumnus SMKN Ngraho itu.
Kini, mimpinya terwujud. Logo rancangannya bukan hanya menjadi simbol peringatan hari jadi, tapi juga menjadi simbol perjalanan panjang seorang pemuda desa yang berani bermimpi. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana