Jalan sehat tak lagi identik dengan acara besar, bahkan kini merambah hingga gang-gang kampung di Kecamatan Kota, satu kelurahan bisa menggelar hingga lima jalan sehat dalam sehari, menjadikan olahraga sederhana ini sebagai tren kebersamaan warga.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
ALUNAN musik terdengar dari ujung gang, spanduk sederhana terpasang di panggung kecil. Warga mulai berdatangan dengan pakaian olaharga, sementara anak-anak berlarian riang.
Suasana seperti ini kian sering terlihat di berbagai sudut Kota Bojonegoro.Jalan sehat, yang dulu identik dengan acara besar di alun-alun dan skala kabupaten, kini menjelma menjadi tren baru di kampung-kampung.
Hampir setiap RT dan RW bisa menggelar jalan sehatnya sendiri. Fenomena ini terasa jelas pada Minggu (24/8), warga berbondong-bondong ikut jalan sehat keliling kampung, disambut doorprize sederhana.
Kegiatan ini berubah menjadi tontonan seru ketika panitia mengumumkan hadiah yang tak lazim. Bukan televisi atau sepeda yang jadi primadona.
Melainkan seekor lele jumbo seberat lima kilogram, serta tempe raksasa dengan panjang mencapai satu meter. Dua hadiah itu sontak memicu tawa sekaligus rasa penasaran peserta.
’’Hadiahnya unik, tidak hanya doorprize perkakas rumah tangga. Namun, ada ikan lele 5 kilogram sampai tempe berukuran satu meter,” ungkap Ketua RT 7 kelurahan Mojokampung Nugroho.
Ide nyeleneh panitia terbukti ampuh. Peserta, mulai anak-anak hingga orang tua, tampak antusias menunggu undian hadiah.
Beberapa warga bahkan sudah membayangkan akan mengolah lele jumbo itu menjadi santapan bersama tetangga.
’’Kalau hadiah rumah tangga sudah biasa, makanya kami pilih sesuatu yang unik dan langsung bisa dimakan bersama. Jadi lebih berkesan,” ujar pria yang juga guru SMKN 2 Bojonegoro itu.
Menurutnya, jalan sehat ini sudah mulai berlangsung sebelum pandemi lalu. Hal tersebut, sontak menjadi kegiatan rutin, dan diikuti oleh RT lainnya.
Bahkan, setidaknya dalam dua minggu terakhir, ada 12 RT yang telah menggelar jalan sehat. Namun, Mojokampung bukan satu-satunya, karena di kecamatan kota lainnya, suasana seperti jalan sehat juga bergema di Kelurahan Ledok Kulon, Banjarjo, pada hari yang sama.
Setiap RT dan RW tampak berlomba menggelar kegiatan serupa, menciptakan suasana semarak.
’’Kalau dulu kami menunggu jalan sehat di stadion atau alun-alun, sekarang tiap kampung bisa bikin sendiri. Lebih dekat, lebih guyub,” terang Agung, warga Kelurahan Banjarjo, Kecamatan Kota.
Tren ini menandai pergeseran budaya kebersamaan masyarakat Bojonegoro. Dulu, jalan sehat kerap dipusatkan, dan mengundang ribuan orang dengan panggung besar dan doorprize spektakuler.
Kini, pusat keramaian itu terpecah menjadi rute-rute kecil di kampung. Jalan lingkungan, gang sempit, hingga lapangan RT menjadi saksi kebangkitan tradisi baru. (*/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko