Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Muhammad Anshori, Pelukis Sekaligus Pegiat Bonsai Asal Kecamatan Balen: Seperti Pacar, Sekian Lama Dijaga Mendadak Putus

Dewi Safitri • Selasa, 12 Agustus 2025 | 01:00 WIB

 

TELATEN: Muhammad Anshori, Pelukis Sekaligus Pegiat Bonsai Asal Kecamatan Balen.
TELATEN: Muhammad Anshori, Pelukis Sekaligus Pegiat Bonsai Asal Kecamatan Balen.

Dari Patah yang Menguatkan hingga Tunas yang Menenangkan. Menunggu tunas bonsai tumbuh, bagi Muhammad Anshori seperti datangnya jodoh yang tiba-tiba, setelah ditunggu bertahun-tahun.


DEWI SAFITRI, Bojonegoro


ANEKA pohon mungil berjejer rapi dengan berbagai jenis. Batangnya berkelok, anggun, dengan daun dan tunas kecil yang mulai tumbuh merimbun di atas pot kecil.

Dengan keahlian tangan Muhammad Anshori. Pohon-pohon tersebut berhasil menjadi bonsai yang menyimpan nilai seni mendalam pada setiap lekuk pohonnya.

Sejak kecil, Aang sapaannya, sudah akrab dengan tanah dan tanaman. Mulai dari menanam pohon sejak masih duduk di bangku SD. Hingga mulai mengenal bonsai di jenjang SMA. Sejak itu juga, ia jatuh cinta pada pohon mungil tertanam rapi di dalam pot tersebut.

‘’Saat itu belum tahu cara menanamnya,’’ kisahnya. Seiring berjalaannya waktu, Aang terus mencari tahu. Pada 2018 lalu, ia iseng belajar bonsai melalui Youtube. Ia mulai mencari bahan-bahan tanaman untuk bonsai. Mulai dari di belakang rumah, hutan, hingga beli di pendongkel.

Kecintaannya pada bonsai semakin memuncak ketika melihat pameran nasional 2019 di Gedung Serbaguna, Bojonegoro. Kebetulan saat itu, menjadi salah satu panitia. Bakat seni yang dimiliki pemuda 27 tahun tersebut, membawanya semakin tertarik untuk lebih jauh mengenal dan mempelajari dunia bonsai.

Pelukis asal Kecamatan Balen tersebut menganggap, bahwa bonsai merupakan seni yang tidak ada habisnya untuk dipelajari. Karena bonsai merupakan mahluk hidup yang membutuhkan makan dan minum.

‘’Bagi saya, bonsai adalah seni yang memiliki arti spiritual yang sangat dalam bagi perjalanan hidup kita,’’ katanya. Bagi Aang, bonsai tidak cukup hanya sekadar di tanam saja. Pohon mungil dengan nilai seni tinggi ini perlu dirawat dan diarahkan.

Menariknya, ketika proses mengarahkan atau memberikan kawat, tiba-tiba patah, hal tersebut menjadi tantangan sekaligus semangat tersendiri untuknya berbonsai. ‘’Membuat bonsai yang paling saya suka adalah prosesnya,’’ terangnya.

Dia mengatakan, menunggu tunas tumbuh pada bagian yang diharapkan merupakan suatu kebahagiaan dalam berbonsai. Seperti halnya datangnya jodoh yang tiba-tiba, setelah ditunggu bertahun-tahun.

Tidak hanya momen bahagia, terkadang kesedihan juga menyapa dalam prosesnya. Mengingat, bonsai merupakan makluk hidup. Terkadang, setelah dirawat dengan sepenuh hati, tiba-tiba mati.

‘’Seperti halnya pacar, sekian lama dijaga, eh tiba-tiba putus,’’ candanya beriring tawa. Meski begitu, suka duka dalam perjalanan berbonsai tetap menjadi bagian yang menyenangkan bagi Aang. Bahkan, terus mengasah kemampuan agar ilmu dan pengalaman yang dimiliki terus berkembang.

Beberapa kali juga ia mengikuti pameran di luar kota. Mulai dari di Kabupaten Tuban hingga Blitar. Membanggakannya lagi, dalam pameran yang diikuti, berhasil menyabet predikat baik sekali.

‘’Semoga para pegiat bonsai di Bojonegoro semakin maju, sukses, selalu berkarya, dan bersatu,’’ harapnya. (*/msu)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Pelukis #Bonsai #bojonegoro #balen #pacar