Majelis Njeng Sunan menggelar ruwatan di Kayangan Api Kecamatan Ngasem. Diam menyatukan energi api, angin, air, dan bumi.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
DI tengah sunyi rimbun jati Bojonegoro, terdapat bara yang tak pernah padam: Kayangan Api. Namun malam itu, bara itu menyala bukan hanya di permukaan tanah, tapi juga di dalam dada pengunjung.
Bukan untuk wisata, bukan untuk tontonan, tetapi untuk sesuatu yang lebih dalam, yang menjadi spirit bagi Indonesia.
Sabtu (19/07), ratusan peziarah spiritual dan budayawan berkumpul di situs Kayangan Api dalam sebuah prosesi bertajuk Umbul Donga Ruwat Nuswantara, yang digagas oleh Majelis Dzikir dan Sholawat Mocopat Njeng Sunan.
Kayangan Api dipilih sebagai titik awal, sebagai simbol unsur api, yang diyakini sebagai elemen pertama kehidupan. “Api adalah awal kehidupan. Tapi kehidupan tidak akan utuh tanpa unsur angin, air, dan bumi. Maka kita menyatukan semuanya,” jelas Pemimpin Njeng Sunan Istiadi Suhartono.
Prosesi ini proses perjalanan spiritual menyatukan semesta, yang kelak akan berlanjut ke Candi Angin di Magelang (angin), Candi Jolotundo di Nganjuk (air), dan Bukit Tidar (bumi). Namun, semua bermula di sini—di Bojonegoro, di Kayangan Api yang menyala sejak zaman lampau.
Baca Juga: Upluk Runner, Inisiator Trail Run di Bojonegoro: Nikmati Keindahan Gunung Pandan dengan Cara Berbeda
Dalam prosesi itu, tak ada panggung, tak ada protokol megah. Yang ada hanya nyanyian mocopat, kidung, suara bambu, dan api yang bergoyang lembut ditiup angin malam. Semua menyatu, dalam diam dan doa.
“Kita tidak bertanya siapa kamu, dari mana kamu. Di sini kita nyawiji manembah. Bersama-sama mendoakan negeri ini,” tegas Pak Is.
Menariknya, kesenian tradisional Sandur Sedhet Srepet ikut melebur dalam prosesi. Tak tampil sebagai hiburan, tapi menyatu menjadi bagian spiritual dalam keseluruhan acara.
“Sandur bukan selingan. Dari awal sampai akhir kami menyatu dalam rangkaian. Tanpa jeda, tanpa MC,” ungkap Oki Dwi Cahya, pegiat Sandur. Oki mengaku sudah tiga kali mengikuti prosesi bersama Njeng Sunan.
Kayangan Api malam itu bukan sekadar menyala, tapi memberi makna. Ia menjadi pusat spiritual baru, sekaligus pengingat bahwa kekuatan bangsa bisa lahir dari tempat yang hening dan tak terduga. Bara kecil yang menyala abadi, kini menyalakan harapan bagi Nusantara. (dan/msu)