Amanat Solikah sedang kuliah S-2 di Taiwan, hobi menulis sejak 2020 silam, telah berhasil menerbitkan empat buku.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
AWALNYA hanya tugas kuliah. Sebuah tulisan yang harus dimuat di media. Kemudian Amanat Solikah mulai menemukan jati dirinya. Di balik layar laptop, di tengah pandemi dan keheningan rumah, mulai akrab dengan dunia literasi.
Bahkan memutuskan untuk mengikuti kelas menulis online. Mengembangkan diri, mengasah teknik, dan memperluas wawasan. “Menyukai menulis sejak mahasiswa semester 3 di 2020,” ujar penulis dan editor salah satu media online tersebut.
Bagi perempuan 22 tahun tersebut, menulis bukan sekadar hobi. Lebih dari itu, ia menyukai setiap alurnya. Mulai dari melakukan riset isu aktual dan terkini, analisis, critical thinking, manajemen penulisan, editing, hingga tulisan itu terbit. Proses itulah yang membuatnya bertahan dan berkembang.
Amanat yakin, dengan yang didalami saat ini akan berguna di masa depan. Baik dalam akademik maupun non-akademik. Terlebih, mengingat salah satu impiannya untuk mengabdikan diri di dunia akademik.
Berbagai lomba tingkat regional hingga nasional pernah diikuti Amanat. Bahkan, tak jarang berhasil menjuarainya. Di antaranya Juara II lomba opini immawati yang diadakan oleh PC IMM Kota Surabaya tingkat nasional dan Juara II Menulis Opini PK IMM STKIP Bogor tingkat nasional.
Gadis asal Kecamatan Sumberrejo tersebut juga aktif dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Hingga pernah mendapatkan pendanaan dari Kemendikbudristek.
Tahun 2024 menjadi titik penting lainnya, ketika berhasil menerbitkan empat buku, tiga di antaranya ditulis sendiri. Diantaranya, dengan judul “Segalanya Ada” dan “Etnomatematika pada Monumen Tugu Pahlawan Kota Surabaya”.
Selanjutnya, dengan judul “Mengguningkan Feminisme” dan “Menyikap Masalah Stunting, Pernikahan Dini, dan Tantangan Pendidikan”. Selain itu, ia juga kerap mengikuti penulisan artikel ilmiah yang terbit di jurnal terindeks Sinta.
Dia mengatakan, hal menarik sebagai penulis ketika menggali informasi. Terkadang topik yang diangkat mengenai perempuan dan feminisme tersebut perlu pendalaman. Tak jarang juga, bertemu dengan narasumber atau lawan bicara yang lekat dengan budaya patriarki.
“Sehingga, membuat perspektif tersebut menambah bumbu dalam isi konten,” lanjutnya.
Kebahagiaan kecil hadir ketika tulisannya dibaca, dikutip, bahkan dibagikan oleh orang tak dikenal. Amanat percaya, tulisannya mungkin akan hilang ditelan waktu, tapi selama bisa memberi manfaat, dianggap cukup.
“Harapannya, apa yang saya tulis baik di media online, buku, media cetak, dan jurnal dapat bermanfaat bagi orang lain. Dan, saya bisa menggeluti lebih dalam perihal tulis menulis,” harapnya.
Langkah alumni Universitas Muhammadiyah Surabaya tersebut telah sampai di Taiwan. Diterima mahasiswa International Master Program in STEM Education, College of Education dan diterima beasiswa NPTU International Students Scholarship di National Pingtung University, Taiwan. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana