Terbentuk sejak 2015, cabang olahraga (cabor) bola tangan kini mampu meraih berbagai prestasi. Termasuk empat medali emas dari empat edisi porprov berturut-turut. Tentu pencapaian tersebut berkat pembinaan panjang.
M. IRVAN RAMADHON, Radar Bojonegoro
Pencapaian luar biasa berhasil ditorehkan cabor bola tangan Bojonegoro di Porprov 2025. Tim putra cabor terbentuk sejak 2015 tersebut berhasil mempertahankan prestasi medali emas porprov selama empat edisi berutur-turut.
Tentu prestasi tersebut tak mudah untuk dicapai. Perlu konsistensi dalam pembinaan selama bertahun-tahun
Pada awal mula membangun bola tangan di Bojonegoro tidak mudah. Sejak 2015 proses pencarian bibit dari sekolah ke sekolah. Namun, baru 2016 terbentuk tim Bojonegoro Handball .
‘’Di tim ini pasti ada atlet yang masuk dan keluar,” ungkap Ketua Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) Bojonegoro Kukuh Susetya.
Pada awal berdiri para alet bola tangan berlatih dengan peralatan seadanya, dari mencari tempat sampai peralatan latihan.
Latihan perdana dilakukan di Lapangan Polres Bojonegoro yang kala itu masih outdoor. Sehingga jika hujan tidak bisa latihan. ‘’Karena waktu itu bisa di bilang seperti babat alas,” ujar guru SMAN 1 Balen tersebut
Tentu saat awal mengikuti kompetisi baik kejuaraan daerah (kejurda) maupun kejuaraan provinsi (kejurprov) belum bisa berhasil menjadi juara 1. Terkadang hanya di posisi 3 bahkan tidak mendapat prestasi sama sekali.
Namun poin pentingnya melakukan pembinaan jangka panjang dalam waktu kurang lebih 3 hingga 4 tahun baru terasa hasilnya. Prestasi satu demi satu berdatangan Kala itu pada 2019 mengikuti eksibisi Porprov di Tuban
‘’Pemain kami berlatih kurang lebih 4 tahun dan hasi nya Juara 1 putra dan putri,” jelas guru 31 tahun itu.
Namun setelah medali emas perdana di porprov mengalami kesulitan. Tepatnya ketika ada pendemi Covid-19. Sehingga jadwal latihan terganggu dan beberapa atlet berkurang namun tidak semuanya.
‘’Setelah pandemi kami menata diri lagi dengang kekuatan yang masih sama dan masuk beberapa talenta baru, Tepatnya di Porprov VII Jember,” terang alumni Unesa tersebut.
Walau dengan kondisi yang bisa dikatakan kurang baik. Cabor bola tangan berhasil meraih medali emas putra dan putri perunggu. Setahun berselang di Porprov VIII 2023 Sidoarjo, permainan para pemain semakin matang.
‘’Alhamdulillah tim putra masih mendapat medali emas dan tim putri peringkat 4,” terang pria tinggal di Desa Prayungan, Sumberrejo.
Lanjut di Porprov Jatim IX tahun ini di Malang, tersisa 6 pemain Porprov edisi sebelumnya yang bisa bermain. Dan 10 atlet baru mengikuti event porprov pertama kalinya.
Namun berkat latihan luar biasa disiplin dan komitmen dari atlet tim putra meraih medali emas. Sementara tim putri masih berada di peringkat 4.
‘’Karena ada beberapa faktor yang akan kami evaluasi kembali,” ujarnya
Menurut Kukuh pada dasar setiap pembangungan bidang olahraga tidak bisa instan, harus bertahap dan terukur. Setidaknya butuh 4 tahun untuk mempersiapkan atlet yang layak untuk tampil di pertandingan event besar. ‘’Tidak bisa 1 tahun jadi,” ungkapnya.
Selain itu, faktor dari dukungan orang tua, pemerintah, dinas terkait, hingga KONI sangat membantu dalam proses untuk kemajuan olahraga. Di sisi lain olahraga membutuhkan biaya untuk alat dan latihan.
Pembinaan harus dilakukan secara bertahap. Mulai atlet kelas junior, persiapan porprov dan senior.
Terkait potensi atlet bola tangan, potensi atlet bola tangan sangat bagus di Bojonegoro. Banyak peminat, sehingga pengurus cabor berusaha untuk melakukan evaluasi setiap saat dengan adanya event.
‘’Setiap tiga hingga bempat bulan sekali untuk melihat sejauh mana pembinaan ini,
terangnya
Dalam melakukan pembinaan atlet bola tangan Kukuh mengalami berbagai suka dan duka. Suka ketika bisa membibit calon atlet masa depan Bojonegoro ataupun Jatim.
Duka saat ada permasalahan karena pembiayaan, atau seperti pendami lalu. Kemudian perlatan dan perlengkapan.
‘’Tapi setiap tahun meningkat menjafi lebih baik. Sekarang ini lebih diperhatikan,” jelasnya.
Kukuh bersyukur bisa berjaya di empat edisi porprov karena pembinaan di awal. Atlet yang dibina mulai tahun 2015/2016 masih bisa bermaian dari porprov 2019 /2022/2023/2025
‘’Walaupun tidak semuanya sama tetapi beberapa atlet secara umur bisa bermaian di porprov. Jadi di tim sudah saling mengerti satu sama lain karena kurang lebih 4 tahun berlatih bersama,” terangnya. (irv/edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana