Patah hati mengantarkan Moch Sulthoni Bahri Shiddiq menemukan kembali hobi yang membuatnya bahagia. Tidak hanya sekadar menyehatkan dan membahagiakan, tapi Tony Kennzy sapaannya, juga berhasil melahirkan klub Bojonegoro Running Home (BRH).
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
PUTUS cinta menjadi titik awal Moch Sulthoni Bahri Shiddiq aktif di dunia lari. Berniat menghibur diri, justru membuatnya jatuh cinta dengan olahraga ini. Di balik kesibukannya sebagai arsitek dan desainer interior, Tony Kennzy sapaannya, tetap menyempatkan waktu untuk olahraga lari.
Meski hobi ini sudah tumbuh sejak kecil, tapi ia baru rutin melakukannya sejak satu tahun terakhir. Bermula dari coba-coba daftar event lari 5K, lalu ketagihan sampai sekarang. ’’Gabut karena waktu itu lagi putus cinta. Sehingga, mencoba menghibur diri dengan cara berlari,” kata laki-laki 28 tahun tersebut.
Daripada larut dalam kesedihan, Tony memilih jalan sehat sebagai pelampiasan. Justru jalan tersebut yang membawanya menemukan kebahagiaan. Baginya, dengan berlari dapat mengeluarkan hormon endorfin.
Sehingga, memacu rasa bahagia hadir dan membuat mood bagus. Dalam menjalani aktivitas keseharian juga akan lebih semangat. Selain itu, kesadaran untuk menjalani pola hidup sehat juga menjadi motivasinya dalam berolahraga.
Tidak hanya sekadar menjadi rutinitas untuk dirinya sendiri. Tapi, juga hobi yang dilakukan bersama teman-temannya ini melahirkan klub lari. Yakni, Bojonegoro Running Home (BRH).
’’Awalnya tidak sengaja random lari dan keliling di sekitar GOR berdua bersama teman. Setelah dirasa asyik juga, tanpa berpikir panjang langsung muncul nama BRH,” terangnya.
Alumni mahasiswa Universitas Bojonegoro tersebut mengatakan, keunikan BRH memiliki visi untuk eksplor potensi desa di Bojonegoro dengan berlari. Juga, menjadi wadah bagi masyarakat Bojonegoro yang memiliki hobi lari.
Dengan konsep fun run dan dikemas layaknya hobi yang rekreasional. Sehingga, lari jauh lebih menarik di mata masyarakat. Hal tersebut juga yang menjadi daya tarik dari BRH. ’’Berawal dari dua orang, akhirnya bisa tumbuh dan berkembang sampai sekarang anggota BRH sudah 80 orang,” beber pemuda asal Desa Mojoranu, Kecamatan Dander tersebut.
Sudah sekitar sebelas kecamatan dan 40 desa yang dieksplor oleh para pehobi lari dari klub BRH. Kini, BRH bukan sekadar klub lari, tapi juga wadah baru bagi masyarakat Bojonegoro untuk hidup sehat sembari mengenal daerah sendiri dengan lebih dekat.
Satu langkah kecil yang lahir dari niat menghibur diri, berkembang jauh menjadi gerakan bersama yang menginspirasi. ’’Ajang lari bisa untuk menjalin silaturahmi antar pelari dan kulineran di daerah yang menjadi rute running. Semoga banyak masyarakat yang tertarik dengan olahraga, tidak hanya lari, tapi cabang olahraga lainnya juga,” pungkasnya. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana