Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Gunawan, Wasit Lisensi C1 Nasional Asal Desa Katur, Kecamatan Gayam: Asah Mental di Tarkam, Pernah Dipukul sampai Kehilangan Motor

Yuan Edo Ramadhana • Jumat, 31 Januari 2025 | 18:55 WIB
INTEGRITAS: Gunawan telah memegang Lisensi C1 Nasional. Integritas sebagai wasit selalu ia jaga. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
INTEGRITAS: Gunawan telah memegang Lisensi C1 Nasional. Integritas sebagai wasit selalu ia jaga. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Generasi wasit asal Bojonegoro mulai bermunculan. Salah satunya Gunawan. Pria asal Desa Katur, Kecamatan Gayam itu menjadi satu dari empat wasit pengadil lapangan hijau asal Kota Ledre, yang memegang lisensi Nasional.


DHANI WAHYU ALFIANSYAH, BOJONEGORO


SEJAK dualisme PSSI pada 2012 silam, generasi wasit asal Bojoneoro seakan mati suri. Namun, bibit-bibit pengadil lapangan hijau, akhirnya kembali bermunculan sejak lima tahun terakhir. Salah satu generasi wasit muda itu, terdapat nama Gunawan. 

Pria kelahiran 1993 yang tengah meniti karir menjadi wasit profesional di kancah liga Indonesia. Meski terjun ke dunia wasit bukanlah cita-citanya dari kecil, namun Gunawan mengaku serius menjalaninya. Tak hanya kondisi fisik, ia pun terus mempelajari berbagai situasi dalam pertandingan.

’’Memang awalnya pemain, karena usia sudah tidak cukup untuk seleksi. Akhirnya, bagaimana caranya agar tetap berada di lapangan hijau,” ceritanya. Tak main-main, impiannya dibuktikan dengan mendapatkan lisensi C1 Nasional 2020 lalu.

Lisensi itu menjadi tingkat tertinggi wasit yang memungkinkannya bertugas di level nasional sampai liga amatir. Sejak itu, Gunawan kerap memimpin pertandingan di Liga 3. ’’Kalau di Bojonegoro pernah ada (lisensi nasional) tapi sebelum dualisme (PSSI) 2012 dulu, sejak itu baru muncul lagi generasi saya,” terangnya.

Meski sudah berpengalam lebih dari lima tahun memimpin pertandingan resmi, dirasakan Gunawan masih belum cukup. Menurutnya, masih perlu jam terbang lebih tinggi untuk bisa naik ke liga yang lebih tinggi. ’’Dengan Lisensi C1 sebenarnya bisa memimpin Liga 1, namun promosinya harus tetap bertahap,” tegasnya.

Jalannya menjadi wasit nasional, tentu tidaklah mudah. Bahkan, berbagai pengalaman pahit pernah dijalaninya selama bertugas. Namun, hal itu tak lantas menyurutkan niatnya menjadi pengadil lapangan hijau.

’’Pernah kehilangan motor Beat saat bertugas di Kabupaten Mojokerto, saat itu memimpin Liga 3 Provinsi,” kenangnya. Tak hanya itu, berbagai kenangan pahit pernah dialaminya ketika memimpin liga amatir. Mulai dari intimidasi suporter hingga aksi protes berlebihan yang dilakukan pemain.

’’Kalau di liga amatir sampai kompetisi antarkampung (tarkam), tentu belum banyak yang paham aturan, jadi kita juga harus lebih tegas mengatasinya,” tuturnya. Tak jarang, ketika di awal-awal karirnya, aksi-aksi protes pemain hingga melemparkan pukulan pun harus dialaminya.

Namun, sebagai pengadil lapangan, intregitasnya harus tetap dipertahankan. ’’Bagaiamana pun kalau kita sudah pakai baju wasit, kita tidak boleh membalas. Tugas kita hanya menghindar,” kenangnya. Meski disadarinya, berbagai kejadian itulah yang justru semakin menguatkan mentalnya. (dan/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Lapangan Hijau #protes #Sepak Bola #dualisme #wasit #mojokerto #PSSI #bojonegoro #gunawan #wasit nasional #Lisensi #gayam #liga 1 #liga amatir #tarkam #liga 3