Kerja keras dan keuletan Ria Indah Kusuma Pitaloka mengembangkan usaha patut diacungi jempol. Di tengah kesibukan sebagai dosen, ia sukses mengembangkan usaha dan menciptakan lapangan kerja.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
ANEKA jenis camilan tersajikan dengan nikmat. Dengan rasa khas, beragam snack dari kacang, keripik, kerupuk, hingga kue kering siap dipasarkan. Tidak hanya menarik daya beli masyarakat luar.
Tapi, aneka makanan dengan nama Camilan Cap Bagong ini juga telah memikat hati banyak konsumen dari luar daerah. Meliputi, Kabupaten Tuban, Lamongan, Tulungagung, hingga Nganjuk.
Usaha aneka Camilan Cap Bagong didirikan sejak 2019 lalu. Tepatnya, ketika pandemi Covid-19 yang mengharuskan bekerja dari rumah. Suka-duka membangun usaha dihadapi Ria Indah Kusuma Pitaloka bersama sang suami.
Di tengah kesibukan sebagai Dosen Farmasi Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro, Ria rela ikut terjun langsung ke lapangan untuk promosi dagangan. Mengingat, tidak mudah bagi suatu produk untuk langsung diterima konsumen.
Semua perlu ketekunan dan keuletan. Pada 2021, sang suami yang bekerja sebagai pelaut memutuskan untuk berhenti belayar dan fokus berdagang. Support satu sama lain saling diberikan oleh pasangan tersebut.
Mulai dari terjun mempromosikan produk di angkringan, toko kecil, grosir, hingga beberapa kali mengikuti pameran produk UMKM di bazar. ’’Suami yang notabennya adalah pelaut dan saya dosen rela menghilangkan rasa malu untuk mempromosikan langsung ke masyarakat,” ujarnya.
Untuk mengembangkan usahanya, perempuan 33 tahun tersebut terus berinovasi menambah jenis snack. Tidak hanya pada jenisnya, ia juga berusaha untuk meningkatkan kualitas produk. Dengan mengikuti beragam pelatihan, seperti seminar hingga workshop.
Seperti namanya, Bagong yang berarti besar. Ria berharap, usaha yang dirintisnya bisa terus berkembang dan bertambah besar. Hingga memberi manfaat pada sekitar. Camilan Bagong telah memiliki izin edar P-IRT sejak 2021.
Dengan keuletan dan ketekunan, Ria bersama suami berhasil mengembangkan usahanya di Tulungagung dan mendirikan cabang di sana. ’’Awalnya, di Tulungagung memiliki tiga karyawan dan saat ini sudah ada dua puluh karyawan. Pembeli hingga saat ini sampai ke Tuban, Lamongan, Tulungagung, hingga Nganjuk,” tutur perempuan asal Desa Sukowati, Kecamatan Kapas tersebut.
Dia mengatakan, bagian paling disuka dari usaha yang dijalani adalah ketika memberi gaji kepada para pegawai di setiap minggunya. Ia bersyukur, dengan usaha ini dapat membuka lapangan pekerjaan dan bermanfaat bagi orang lain.
Hal tersebut membuatnya lebih semangat untuk mengembangkan usaha di tengah kesibukan sebagai dosen. Kerja keras, pantang menyerah, usaha beriring doa, optimistis, dan berani mengambil risiko menjadi kunci memulai usahanya.
Dengan harapan, produk-produknya dapat terus diterima masyarakat dengan baik. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Selain itu, bisa bermanfaat bagi orang lain dengan menambah karyawan dan membuka lapangan kerja untuk masyarakat.
’’Selalu menjaga mutu dan kualitas produk. Serta, berupaya selalu berinovasi baik dari kemasan, rasa, hingga jenis snack yang dipasarkan,” pungkas alumni S2 Ilmu Farmasi Universitas Surabaya tersebut. (ewi/bgs)
Editor : Hakam Alghivari