Perjuangan dua bulan Tim Fertimulchilizer membuahkan hasil. Empat Siswa SMP Plus Izzatul Ummah tersebut sukses memboyong dua Medali Emas LKIR 2024 Tingkat Internasional.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
PERJUANGAN Tim Fertimulchilizer dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2024 membuahkan hasil dua medali emas. Empat siswa SMP Plus Izzatul Ummah meliputi Muhammad Alfan Maulana, Jaka Karebet, Setyo Utomo, dan Nawwal Haidzar Al-Abqory.
Dengan karya tulis berjudul FERTIMULCHILIZER: Inovasi Mulsa Organik Berbahan Dasar Serbuk Gergaji dan Jerami Jati yang Disuntik Kalsium Berbasis Bentuk Padat Lunak untuk Pengendali Kualitas Tanah.
Tim Fertimulchilizer berhasil memberikan solusi dari permasalahan yang terjadi di lingkungan dengan biaya terjangkau. Membuatnya sukses memboyong dua medali emas tingkat Internasional.
Di antaranya, Medali Emas Tingkat Internasional dalam Kompetisi World Youth Invention and Innovation Award (WYIIA) 2024. Dalam kompetisi WYIIA, Tim Fertimulchilizer berlaga melawan 16 negara. Beberapa di antaranya, Thailand, Mexiko, Filipina, Iran, Hongkong, Banglades, hingga Amerika Serikat.
Selanjutnya, sukses meraih Medali Emas Tingkat Internasional dalam Kompetisi World Sustainable Development Goal Challenge (WSDG) 2024 yang digelar di Malaysia. Kompetisi yang diikuti 31 negara. Mulai dari Malaysia, Thailand, Jepang, India, Vietnam, dan hingga Singapura.
‘’Sangat senang, kaget, kayak mimpi bisa menang di LKIR tingkat Internasional,’’ ujar Jaka Karebet mewakili teman-temannya di Tim Fertimulchilizer.
Siswa asal Desa Kuncen, Kecamatan Padangan itu mengatakan, baru pertama mengikuti LKIR. Bahagia karena di lomba pertama bersama ketiga teman lainnya berhasil membawa pulang medali emas. Tidak hanya untuk dirinya dan teman-temannya, tapi juga membanggakan untuk sekolah dan keluarga.
‘’Alhamdulillah, kerja keras yang sudah kami lakukan terbayar dengan kemanangan,’’ katanya.
Sederet cerita perjuangan mengiringi langkah empat siswa tergabung dalam Tim Fertimulchilizer dalam meraih kemenangan. Hasil membanggakan tersebut melalui proses yang tidak mudah. Mereka harus mencari jerami, daun jati, hingga cangkang telur di tempat sampah tukang martabak sebagai bahan pratikum. Tak jarang pula memecahkan alat laboraturium ketika praktik.
‘’Mecahin sepatula kaca, blender, termometer, hingga ngrusakin oven,’’ bebernya.
Meski tidak mudah, bahkan begadang sampai tengah malam. Namun Tim Fertimulchilizer tetap semangat menjalani setiap proses dalam LKIR yang diikuti. Motivasi dari guru pembina LKIR SMP Plus Izzatul Ummah menjadi semangat tersendiri bagi para siswa.
‘’Kata Ustadzah, tidak apa-apa kalau tidak mendapat juara. Terpenting sudah berusaha yang terbaik. Kalau berani memulai, harus berani menyelesaikan,’’ tuturnya menirukan pesan guru pembina. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana