RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di Dusun Kalangan, Desa/Kecamatan Padangan, Bojonegoro tinggal seorang seniman tradisional yang telah mengabdikan hidupnya sejak 1958. Seniman tersebut bernama Santoso. Ia merupakan dalang Wayang Thengul. Bisa dibilang, Santoso merupakan sosok di balik Wayang Thengul masih bertahan hingga saat ini.
Bagi Santoso, Wayang Thengul lebih dari sekadar seni. Ini adalah warisan budaya yang harus terus dikenalkan kepada generasi muda. Dalam wawancara, Santoso menyampaikan keprihatinannya mengenai sepinya peminat Wayang Thengul saat ini.
Dalang Wwayang Thengul banyak yang pensiun, regenerasi dalang wayang di Bojonegoro agak kurang,” kata Santoso dalam bahasa Jawa. Ia berharap agar pemerintah lebih memperhatikan para dalang senior dan mendukung upaya regenerasi ke generasi muda. Tanpa dukungan ini, seni Wayang Thengul terancam hanya tinggal kenangan dan bagian dari sejarah.
Salah satu harapan Santoso adalah agar seni Wayang Thengul dapat dikenalkan di sekolah-sekolah. Ia berkeinginan untuk melakukan sosialisasi mulai dari SD hingga SMA, mengenalkan bentuk dan karakter unik Wayang Thengul kepada anak-anak muda.
Menurutnya, ini adalah langkah penting agar kesenian tradisional khas Bojonegoro tidak punah ditelan zaman. Semoga seni Wayang Thengul ini tidak hanya tinggal nama, tapi bisa terus dipertunjukkan di acara-acara di Bojonegoro,” katanya.
Meskipun tantangan untuk melestarikan Wayang Thengul sangat besar, semangat Ki Santoso dan Aris untuk menjaga warisan budaya ini tetap hidup merupakan bukti bahwa seni tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Melalui kerja keras dan dedikasi mereka, Wayang Thengul terus menjadi simbol keteguhan budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Perlu diketahui, bersama putranya, Aris, dulunya Santoso tidak hanya mendalang. Namun, juga membuat Wayang Thengul. Santoso telah meraih berbagai penghargaan sepanjang kariernya. Ia bahkan, pernah mendapatkan pesanan khusus dari Presiden Soeharto berupa satu set Wayang Thengul yang dibuat dengan tangan dinginnya.
Santoso mengaku sudah pensiun sebagai dalang Wayang Thengul pada 2021. Ia memutuskan berhenti mendalang karena usia yang sudah tua dan kondisi fisik yang tidak lagi mendukung. Suara saya sudah tidak kuat untuk mendalang lagi,” ucap Santoso.
Kini, peran sebagai dalang sudah ia tinggalkan. Santoso lebih fokus pada pembuatan wayang Thengul, sebuah keahlian yang ia wariskan kepada anaknya, Aris. Meskipun Aris mengaku tidak memiliki bakat mendalang seperti sang ayah, ia terus mendukung pelestarian Wayang Thengul dengan menjadi pembuat wayang yang teraMingg
Saya ikut bantu bapak membuat wayang sejak tahun 80-an sampai sekarang, kalau ada pesanan,” ungkap Aris dengan tawa ringan. Aris menjelaskan, bahwa saat ini satu Wayang Thengul dihargai sekitar Rp 300.000, tergantung pada kerumitan dan pesanan yang diterima.
Terkadang, pesanan datang untuk satu set lengkap yang mencakup berbagai karakter. Pemesan datang tidak hanya dari sekitar Bojonegoro, tetapi juga dari tempat jauh seperti Bandung. Wayang-wayang ini, bahkan, sering diikutsertakan dalam pameran-pameran seni, menjadi saksi perjalanan panjang sebuah budaya lokal yang masih bertahan.
Pembuatan satu Wayang Thengul memerlukan waktu sekitar dua hari. Proses ini bukan hanya soal membuat boneka kayu tiga dimensi, tetapi juga menghidupkan kembali cerita-cerita rakyat dan nilai-nilai lokal yang melekat di dalamnya. (fra/bgs)
Editor : Hakam Alghivari