Jati Denok masih gagah dan menjulang tinggi di antara pohon jati lainnya. Saat ini, menjadi pohon jati tertua yang berusia sekitar 200 tahun dan terbesar di wilayah Hutan Blora, tepatnya Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo.
LUKMAN HAKIM, Blora
SAKING besarnya ukuran Jati Denok, untuk merangkul diameter pohon butuh sekitar tujuh orang dewasa. ’’Besar sekali, baru pertama kali, untuk merangkulnya diameter pohonnya perkiraan butuh banyak orang dewasa,” ungkap Jamil, salah satu pengunjung.
Jati Denok tumbuh di petak 62 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Temetes, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung. Jadi magnet para pemerhati sejarah dan kehutanan. Sebab, banyak peristiwa yang hinggap di benak masyarakat tentang pohon jati tersebut.
Seperti muncul anggapan dulunya ditanam oleh Belanda. ’’Klaim itu tidak benar, bukan hasil penanaman Belanda. Bahkan, jati itu sudah ada sebelum Belanda menjajah Indonesia,” ungkap pemerhati sejarah Blora, Totok Supriyanto.
Jati denok yang berada di Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo itu pernah diteliti oleh Herman Ernst Wolff von Wulfing (1891-1945) dengan judul De Wildhoutbosschen op Java (hutan rimba di Jawa). Dalam penelitian itu, juga membahas tentang jati Blora.
’’Herman Ernst Wolff von Wulfing sebelum jadi Kepala Kebun Raya Bogor, dia melakukan riset penelitian pertumbuhan pohon jati. Akhirnya, sampai ke Blora, setelah melihat hutan belantara,” jelas Totok.
Penelitian itu menyebutkan, telah ditemukan jati-jati tersebar di Blora. Salah satunya, pohon-pohon jati di wilayah di mana jati denok tumbuh. Herman melihat jati yang besar tinggi 50 meter, berdiameter 3,5 meter dengan lingkar keliling lebih kurang 11 meter.
Jati tersebut berada di tengah hutan, tepatnya di antara Dukuh Banyuurip dan Dukuh Temetes di Desa Banjarejo, Blora. Dimungkinkan Jati Denok yang saat ini masih ada juga termasuk di wilayah sekitar hutan tersebut.
Jati yang diteliti oleh Herman berada di petak D yang kemudian hari dikenal dengan istilah Jati Denok sekarang. ’’Saat itu, diperkirakan usianya lebih dari 200 tahun. Jati yang diteliti itu sudah tidak ada. Jati Denok mungkin saja seumuran dengan jati tersebut,” jelas Totok.
Penelitian ini membuat pohon jati menjadi populer dan terkenal di kalangan orang-orang Indonesia dan Eropa. Karena kualitasnya yang baik. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Herman bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan pohon jati.
Jati merupakan pohon yang dominan di hutan belantara Blora. ’’Jati itu bukan tanaman orang Belanda, apalagi Perhutani. Itu klaim mereka. Jati itu hidup di hutan Blora. Karena sifatnya yang dominan dibanding dengan jenis yang lain. Jadi, Hutan Blora seakan-akan hutan homogen yaitu hutan jati,” ujarnya.
Jati Denok sendiri diperkirakan sezaman dengan jati yang diteliti oleh Herman Ernst Wolff von Wulfing tersebut. Namun, jati yang diteliti oleh Herman sudah tumbang. Totok mengatakan jati merupakan pohon endemik Blora dan dianggap sebagai pohon kehidupan karena mampu hidup dengan jangka waktu sangat lama. (*/bgs)
Pelabuhan Belanda Berbahan Kayu Jati
Awalnya, wilayah hutan atau alas Blora dikenal dengan hutan rimba bukan hutan produksi. Disebutkan Totok, pada abad ke-19 ketika Belanda akan membangun sebuah proyek pembangunan pelabuhan terkuat di Surabaya termasuk armada membutuhkan kayu jati terbaik di Jawa.
Pohon itu ada di Blora dan Bojonegoro. ’’Belanda ingin membangun kekuatan pelabuhan dan armadanya, Belanda kemudian memonopoli produksi hutan jati, jati diambil alih,” jelasnya. Dia menyayangkan adanya anggapan, bahwa pohon jati merupakan tanaman orang-orang Belanda.
Padahal tidak, Belanda ingin menguasai kayu jati guna kekuatan armada perang. Sayangnya, proyek belum kelar, Belanda sudah diserang oleh Inggris. ’’Jati tanaman Belanda ya hanya klaim Belanda, monopoli Belanda. Klaim itu terdengar sampai sekarang. Bahkan, itu diamini pekerja Perhutani sampai sekarang. Bahwa jati itu ya tanaman Belanda,” ucapnya. (luk/bgs)
Baca Juga: Sisi humanis KBO Binmas Polres Blora Iptu Sugianto, Siang Kerja Sore Ngajar Ngaji
Editor : Yuan Edo Ramadhana