Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Melihat Pohon Buah Sawo Raksasa di Desa Ngiyono, Budidaya Mulai Tanam hingga Berbuah Butuh Empat Tahun

Hakam Alghivari • Selasa, 16 April 2024 | 20:55 WIB

 

BERBUAH: Handono memamerkan pohon sawo raksasa yang ditanamnya mulai berbuah.
BERBUAH: Handono memamerkan pohon sawo raksasa yang ditanamnya mulai berbuah.
 

 

Sawo raksasa ditanam Handono Yusuf mulai berbuah. Rasa manis dan tekstur lembut mampu menggoyang lidah penikmatnya. Hingga Bupati Blora Arief Rohman dibuat kagum kali petama mencicipinya.

LUKMAN HAKIM, Blora


’’Saya bawa dua buah untuk beliau (Bupati Blora Arief Rohman) dengan berat 1,8 kilogram. Saat bupati mencicipi sawonya, bupati kagum. ‘Sawo kok seperti ini?’ buahnya besar dan tekstur lembut,” ungkap Handono Yusuf warga Desa Ngiyono, Kecamatan Japah.

Buah besar seukuran bola voli itu disebut sawo raksasa. Juga biasa disebut mamey sapote. Sebab, pada dasarnya sawo bukan buah asli Indonesia, melainkan buah asli Meksiko. Handono sendiri mulai budidaya sawo raksasa sejak 2020 lalu.

Setidaknya, butuh waktu empat tahun, mulai dari tanam hingga bisa dipanen. Pria 27 tahun itu  memanfaatkan lahan di belakang rumahnya untuk proses produksi buah langka di Blora tersebut. ’’Baru berusia empat tahun dan baru panen untuk pertama kalinya,” ungkap petani muda tersebut.

Cita rasa mamey sapote tersebut lembut dan manis, dengan warna buah merah oranye. Rerata beratnya mulai satu hingga tiga kilogram per buah. Harga perkilogramnya terbilang mahal. Yakni, mencapai Rp 150 ribu.

Selain buah yang berukuran tak seperti sawo yang dijual di pasaran, tamanaman dari Meksiko itu juga baik bagi kesehatan. ’’Mamey sapote baik untuk kesehatan. Terutama untuk pencernaan, kulit, dan mencegah reiiko anemia,” jelasnya.

Founder Bumi Tani Soponyono Group tersebut mengungkapkan, usia panen mulai dari bakal buah dan bisa untuk dipetik membutuhkan waktu sepuluh bulan. Untuk perawatannya, sawo raksasa membutuhkan air yang cukup. Juga membutuhkan unsur hara pada tanah yang tinggi.

’’Tanah yang cocok ditanam itu memiliki unsur hara yang tinggi,” ujarnya. Sehingga, Handono sangat memperhatikan kesuburan tanah dengan cara menyiapkan pupuk kandang maupun kompos, dengan kandungan humus tinggi.

Menurutnya, walaupun butuh perawatan tanah intensif, tanaman ini tidak manja, bisa ditanam dengan model stek maupun cangkok. ’’Dia (sawo raksasa) ini juga tidak kenal musim, asal tercukupi nutrisinya,” ucap Handono.

Ia mengaku, sedikit kesulitan saat terjadi kekeringan. Karena di wilayah desanya kesulitan air saat musim kemarau tiba. Selain itu, sawo tersebut rawan terkena pembusukan akar dan jamur ketika nutrisi tidak terpenuhi. ’’Munculnya penyakit kalau nutrisi tidak terpenuhi,” jelasnya.

Saat ini, Handono juga sedang mempersiapkan produksi tanaman perkebunan yang lebih besar. Dia juga telah menanam tanaman hortikultura seperti cabai, terong, semangka, dan melon. Tanaman pangan seperti padi, jagung, dan singkong.

Ada pula black sapote, peru sapote, rose sapote dan Australian sapote. ’’Ada lahan sekitar satu hektare untuk edukasi. Selain itu, juga menggarap kebun mulai tahun 2021. Saat ini, kebun kami siapkan untuk hasil produksi yang lebih besar,”bebernya. (*/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#raksasa #sawo #buah #blora #Japah