Tiga jembatan panjang sekitar 15 hingga 20 meter berjejer dengan jarak kisaran 500 meter antara jembatan satu dengan lainnya.
DEWI SAFITRI, RADAR BOJONEGORO
RIMBUNNYA pepohonan dengan lingkungan khas pedesaan menambah kesejukan tiga jembatan peninggalan Belanda di Dusun Kejuron, Desa Bobol, Kecamatan Sekar.
Jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan minimnya lalu lalang kendaraan membuat udara segar tanpa polusi udara.
Di wilayah ujung selatan Bojonegoro tersebut membentang tiga jembatan peninggalan Belanda yang masih difungsikan hingga saat ini. Jembatan dengan panjang sekitar 15 hingga 20 meter tersebut membentang di atas aliran sungai di desa tersebut. Menarik nya, lokasi jembatan berjejer dengan jarak kisaran 500 meter antara jembatan satu dengan lainnya.
Sesepuh Kecamatan Sekar Mbah Saji mengatakan, tiga jembatan berjejer tersebut merupakan bangunan Belanda.
Pada zaman itu digunakan lokomotif untuk mengangkut hasil hutan dari Desa Bobol dibawa ke Tempat Penampungan Kayu (TPK) Rejuno.
Mengingat, pada saat itu kayu jati di Bojonegoro sangat terkenal kualitasnya.
‘’Sehingga, Belanda membuat jalan rel lokomotif khusus untuk mengangkut kayu,’’ lanjutnya.
Hingga saat ini, kondisi jembatan masih terlihat sangat kokoh. Fondasi besar bawah jembatan masih utuh khas bangunan peninggalan Belanda.
Begitupun dengan besi rel yang masih membentang sepanjang jembatan. Tidak ada perubahan bangunan dari jembatan tersebut, hanya terdapat penambahan papan kayu untuk menjadikan rel era kolonial Belanda menjadi sebuah jembatan yang bisa dilalui manusia dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda atau motor.
’Sampai sekarang kondisi bangunan Belanda tersebut masih bagus dan kokoh. Kalau lokasi sungai tidak terjadi pergeseran, maka jembatan tersebut tetap akan bisa bagus dan kuat seperti sekarang,’’ ujarnya.
Mbah Jangkung melanjutkan, kondisi jembatan dulu murni seperti rel kereta api, tidak ada papan kayu seperti sekarang. Kemudian, pada sekitar 1887 baru dijadikan sebagai jembatan. Masyarakat setempat gotong royong untuk mencari kayu yang bagus dan kuat sebagai papan untuk ditata diatas rel sehingga membentuk jembatan. Sehingga, papan kayu di jembatan tersebut meski tidak termasuk karya Belanda, namun usianya sudah puluhan tahun.
‘’Dulu itu cari kayu yang gareh. Seperti, kayu jati, sono, plampis, dan beberapa lainnya yang kuat dan kokoh,’’ tambahnya.
Umur papan kayu dalam jembatan tersebut dapat terlihat dari jenis kayu dan ukurannya. Beberapa kayu terlihat sudah sangat tua dan berbeda dengan papan-papan kayu saat ini.
Namun, beberapa lainnya masih terlihat seperti papan kayu baru. ‘’Untuk papan kayu di atas jembatan sendiri memang tambal sulam. Untuk kayu yang sudah patah atau lapuk, akan diganti dengan kayu baru. Agar jembatan bisa terus digunakan dan tidak membahayakan,’’ paparnya.
Sebagai sesepuh setempat, Mbah Kung sapaannya berharap, bangunanbangunan peninggalan Belanda semacam itu harus tetap dilestarikan. Tidak perlu dirusak untuk diganti yang baru karena berdasar kualitas bangunan Belanda memang terbukti jauh lebih baik.
‘’Cukup dirawat, diperhatikan, dan diperbaiki apabila ada kekurangan atau kerusakan,’’ pungkasnya. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana