Bayu Skak Cerita Pernah Digoblok-goblokin Raditya Dika Gara-gara Target Penonton Yowis Ben

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 19:50 WIB
Poster film Yowis Ben II. (STARVISION)
Poster film Yowis Ben II. (STARVISION)

RADAR BOJONEGORO – Di balik lahirnya film Yowis Ben, Bayu Skak ternyata sempat menghadapi keraguan besar mengenai potensi penontonnya. Bahkan, ketika membicarakan proyek tersebut, Bayu mengaku pernah mendapat teguran keras dari Raditya Dika.

Pengalaman itu diceritakan Bayu ketika mengungkap proses perjuangannya membawa Yowis Ben ke layar lebar di Youtube bersama Jojo Suherman dan Praz Teguh di acara siniar. Dalam ceritanya, saat itu, penggunaan bahasa daerah dalam film masih dianggap sebagai keputusan yang penuh risiko.

Bayu mengingat kembali bagaimana dirinya harus berhadapan dengan keraguan mengenai angka penonton. Ia menyebut target 500 ribu penonton kala itu terasa sangat besar.

Baca Juga: Andre Taulany Akhirnya Pamer Foto Pernikahan dengan Amanda Rigby, Slide Terakhir Bikin Salah Fokus

“Bukannya kayak ya udahlah kamu bisa, malah digoblok-goblokin. Goblok lu, aduh malah takut dong gimana nih 500.000 besar ya? Besarlah. Besar tuh 500.000, Ibu, gimana sih lu?” ujar Bayu.

Dalam ceritanya, respons tersebut datang ketika Bayu berdiskusi dengan Raditya Dika mengenai potensi proyek film yang sedang diperjuangkannya.

Bayu kemudian menyadari bahwa pembicaraan tersebut menunjukkan betapa berisikonya proyek Yowis Ben pada masa itu. Film dengan bahasa Jawa belum tentu memiliki daya tarik bagi pasar penonton Indonesia secara luas.

Namun, keraguan tersebut tidak membuat Bayu menghentikan langkahnya.

Baca Juga: Box Office Indonesia Sepekan: Spider-Man Kuasai Bioskop, Sajen Satu Suro Jadi Film Lokal Terlaris

Justru, keberanian Bayu mendapat dukungan dari produser Yowis Ben, Frederica atau yang akrab disebut Pak Parwes. Bayu mengatakan sang produser melihat semangat yang ia bawa dan ikut percaya pada proyek tersebut.

“Alhamdulillahnya Pak Parwes pun juga menangkap itu sebagai semangat. Jadi selaku produser jadinya, ‘Oke ini Bayu aja sudah semangat ya, saya pun juga harus semangat dong,” kata Bayu.

Bahasa Jawa Jadi Identitas Yowis Ben

Keputusan menggunakan bahasa Jawa menjadi bagian penting dari identitas Yowis Ben. Bayu tidak hanya membawa cerita dari sudut pandang anak muda di Malang, tetapi juga mempertahankan bahasa dan nuansa lokal dalam film tersebut.

Menariknya, penggunaan bahasa Jawa juga turut memengaruhi dinamika akting Bayu dengan Joshua Suherman.

Joshua mengungkapkan bahwa komunikasi keduanya ketika berakting bisa berlangsung sangat natural. Mereka bahkan tidak selalu harus membuat kesepakatan terlebih dahulu ketika ingin mengembangkan respons dalam sebuah adegan.

“Kita udah di titik kalau mau improve di tengah-tengah take kita udah enggak perlu janjian. Aku sama Jojo langsung main aja. Jojo nimpalin apa? Karena bahasa Jawa ya, jadi aku bisa nimpalin,” kata Joshua.

Baca Juga: Hampir Sebulan Tayang, Film Foufo Baru Tembus 366 Ribu Penonton, Tuai Kritik sekaligus Pujian

Menurut Joshua, spontanitas tersebut justru membuat interaksi mereka di depan kamera terasa lebih organik.

“Jadi kelihatan organiknya duonya Jojo sama Bayu nih enak ya timpal-timpalannya,” lanjutnya.

Dari keraguan mengenai jumlah penonton hingga dukungan produser, perjalanan Yowis Ben menunjukkan bahwa keputusan Bayu membawa bahasa Jawa ke layar lebar tidak lahir tanpa risiko.

Ada keraguan, ada kritik, tetapi Bayu tetap memilih menjalankan gagasan tersebut. Bahasa Jawa yang semula menjadi bagian dari perjudian kreatif itu kemudian menjadi salah satu identitas yang melekat pada Yowis Ben. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
jojo suherman yowis ben bayu skak Cerita