RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dalam dunia sinema dan drama Korea, makanan tidak hanya berperan sebagai latar pelengkap atau rutinitas karakter. Ia hadir sebagai bahasa emosional, simbol sosial, bahkan kerap menjadi pusat narasi.
Beberapa judul film dan serial berhasil mengangkat makanan dari sekadar visual menggoda menjadi pengalaman sinematik yang membekas.
Lewat pendekatan yang sensual, lambat, dan kadang spiritual, makanan menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita, dan sering kali justru menjadi jantungnya.
1. Let’s Eat
Serial ini memelopori genre drama Korea yang menjadikan makanan sebagai elemen utama. Let’s Eat, yang mengudara pertama kali pada 2013 dan berlanjut dalam dua musim berikutnya, mengikuti kehidupan seorang pria lajang yang menemukan pelipur lara dalam kegiatan makan.
Drama ini tak hanya menyoroti kelezatan makanan Korea, melainkan juga menyentuh isu kehidupan urban, kesepian, dan pencarian kenyamanan pribadi dalam rutinitas sehari-hari.
Dengan penggunaan efek visual yang cermat—dari slow motion hingga detail suara kunyahan—adegan makan dalam Let’s Eat menjadi ritual tersendiri yang sangat memikat.
Penonton tidak hanya menyaksikan proses menyantap makanan, tapi juga ikut merasakan kenikmatannya. Tak heran jika serial ini kerap disebut sebagai “penyebab utama lapar tengah malam”, bahkan ketika ditonton dalam keadaan kenyang.
2. Dae Jang Geum
Salah satu drama sejarah paling berpengaruh di awal gelombang Hallyu ini memiliki sumbangsih besar dalam memperkenalkan kekayaan kuliner Korea ke dunia internasional.
Mengangkat kisah nyata tentang Jang-geum, seorang pelayan dapur istana yang menjadi perempuan pertama yang diangkat sebagai tabib kerajaan, Dae Jang Geum memosisikan dapur kerajaan sebagai arena politik, strategi, sekaligus ekspresi budaya.
Masakan tradisional Korea ditampilkan secara visual dan naratif sebagai simbol kehormatan, ketekunan, dan kecerdasan. Setiap sajian diperlakukan layaknya karya seni: prosesnya panjang, presisinya tinggi, dan maknanya mendalam.
Di balik kimchi, sup herbal, dan nasi istana, terselip kisah perjuangan perempuan yang berusaha mengukuhkan eksistensinya dalam sistem yang didominasi laki-laki.
3. Midnight Diner: Tokyo Stories
Meski berasal dari Jepang, serial ini sangat relevan dalam diskusi mengenai peran makanan dalam narasi audiovisual. Berlatarkan restoran kecil yang hanya buka mulai tengah malam, Midnight Diner menghadirkan episode-episode pendek yang berpusat pada satu karakter dan satu hidangan.
Yang membuat serial ini berbeda adalah pendekatannya yang kontemplatif. Tidak ada adegan masak yang dilebih-lebihkan atau konflik yang dipaksakan. Makanan menjadi pemantik cerita—sebuah jendela menuju kenangan, penyesalan, atau bahkan pengampunan.
Sering kali, karakter yang datang ke restoran tak butuh nasihat, hanya sepiring makanan yang mengingatkan mereka pada masa yang telah berlalu. Kesederhanaan inilah yang justru membuatnya sangat menyentuh.
4. Parasite
Di antara berbagai simbol dan lapisan kritik sosial yang terdapat dalam Parasite, sajian ram-don atau jjapaguri menjadi penanda kelas sosial yang sangat tajam.
Adegan ketika istri keluarga kaya meminta dibuatkan ram-don dengan tambahan daging sapi Hanwoo memperlihatkan absurditas dan privilese yang dimiliki kelas atas. Makanan instan yang biasanya dianggap sebagai konsumsi kelas bawah berubah makna menjadi eksklusif hanya karena satu potong daging mahal.
Keberadaan makanan dalam film ini bukan untuk membangkitkan selera, melainkan untuk menyampaikan kontras.
Bong Joon-ho menggunakan makanan sebagai metafora ketimpangan sosial: satu pihak bisa mempercantik kesederhanaan dengan kemewahan, sementara pihak lain berjuang untuk bertahan hidup dengan sisa yang ada. Dalam konteks itu, ram-don menjadi simbol ironi—tentang bagaimana makanan bisa merefleksikan ketimpangan dan kekuasaan.
5. Little Forest
Berbeda dari pendekatan sinis atau urban, Little Forest menyajikan makanan sebagai bentuk terapi dan rekonsiliasi diri. Film ini mengikuti seorang perempuan muda yang kembali ke kampung halaman setelah merasa lelah dengan kerasnya kehidupan kota.
Di desa yang tenang, ia mulai memasak makanan dari hasil kebun sendiri, mengikuti resep-resep ibunya yang telah lama pergi.
Tanpa konflik besar atau drama berlebihan, film ini menawarkan ketenangan melalui irama yang lambat dan adegan-adegan memasak yang menyejukkan.
Makanan dalam Little Forest tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyembuhkan. Dalam setiap sup sederhana atau kue hangat yang ia buat, terdapat usaha untuk memahami diri sendiri, memelihara kenangan, dan berdamai dengan masa lalu.
6. Chef
Lewat film Chef, Jon Favreau menunjukkan bahwa makanan juga bisa menjadi medium ekspresi dan rekonsiliasi emosional. Cerita berpusat pada seorang koki profesional yang memilih keluar dari dunia restoran kelas atas dan memulai kembali lewat food truck bersama anaknya.
Dalam perjalanan keliling Amerika, ia menemukan kembali cintanya pada memasak—dan pada keluarganya.
Visual dalam film ini begitu memanjakan. Proses membuat Cuban sandwich, grilled cheese, dan berbagai hidangan lain digambarkan dengan gairah dan kehangatan.
Namun inti dari film ini bukan hanya pada makanannya, melainkan pada bagaimana makanan bisa menjadi jembatan antara orang tua dan anak, antara kehidupan yang hampa dan hidup yang memiliki tujuan.
Makanan dalam film dan drama bukan sekadar visual pelengkap atau bentuk representasi budaya. Ia adalah bahasa yang mampu menyampaikan emosi terdalam manusia—dari kesepian, cinta, trauma, sampai harapan.
Dalam berbagai karya yang telah disebutkan, makanan menjadi pusat narasi: sesuatu yang memicu konflik, membangun karakter, menyampaikan pesan sosial, atau bahkan menjadi solusi bagi luka yang tak terlihat.
Film dan drama yang menampilkan makanan dengan begitu dalam dan manusiawi selalu memiliki tempat tersendiri di hati penonton. Karena di balik sepiring nasi, semangkuk sup, atau bahkan mie instan, ada kisah yang tak kalah kompleks dibandingkan dengan narasi utama.
Ketika makanan menjadi tokoh utama, maka cerita tidak hanya hidup—ia terasa, mengisi, dan mengingatkan kita bahwa sering kali, hal-hal paling sederhana dalam hidup adalah yang paling bermakna. (kam)
Editor : Hakam Alghivari