Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kenapa Lagu-Lagu Pop Kreatif Era 80-an Kembali Digandrungi Generasi Muda?

Hakam Alghivari • Senin, 9 Juni 2025 | 01:39 WIB
Lagu-lagu lawas, pop city Indonesia, Chrisye, jadi trend di kalangan anak muda sekarang. Ini alasannya.
Lagu-lagu lawas, pop city Indonesia, Chrisye, jadi trend di kalangan anak muda sekarang. Ini alasannya.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dalam beberapa tahun terakhir, musik pop kreatif era 1980-an kembali menjadi sorotan. Lagu-lagu lawas dari musisi seperti Fariz RM, Vina Panduwinata, dan Dian Pramana Putra kembali populer, terutama di kalangan generasi muda yang lahir jauh setelah masa kejayaan musik tersebut.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya jumlah pemutaran lagu-lagu lawas di platform musik digital seperti Spotify dan YouTube.

Bahkan, beberapa lagu juga viral di TikTok sebagai latar musik untuk konten bertema estetika, journaling, atau rutinitas sehari-hari.

Peran Algoritma dan Tren Digital

Salah satu faktor utama di balik kebangkitan pop kreatif ini adalah peran algoritma rekomendasi. Platform seperti Spotify dan YouTube mendorong konten berdasarkan preferensi pendengar.

Lagu-lagu yang memiliki nuansa ringan, melodi lembut, dan aransemen harmonis sering kali muncul dalam playlist bertema “nostalgia”, “city pop”, atau “chill”.

Tren ini diperkuat oleh kemunculan berbagai konten digital yang menggunakan lagu-lagu lawas sebagai latar suara.

Penggunaan lagu retro dalam video pendek telah menjadi bagian dari estetika digital yang diminati generasi muda.

Nostalgia dan Efek Psikologis

Meskipun banyak pendengarnya tidak mengalami langsung masa 1980-an, musik dari era tersebut tetap memberikan kesan nostalgis.

Menurut studi yang diterbitkan dalam Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts, musik mampu membangkitkan rasa nyaman, keterhubungan emosional, dan stabilitas psikologis—bahkan terhadap periode yang tidak pernah dialami secara langsung.

Musik dengan tempo yang stabil, harmoni yang kaya, dan lirik yang puitis cenderung memberikan efek relaksasi.

Dalam konteks kehidupan modern yang penuh distraksi dan tekanan, jenis musik ini menawarkan ruang untuk melambat dan merenung.

Baca Juga: Baru Tawarkan Royalti Setelah Satu Setengah Dekade, Keenan Nasution Gugat Vidi Aldiano atas “Nuansa Bening”

Konten Lawas, Gaya Baru

Kebangkitan pop kreatif juga menunjukkan cara baru generasi muda dalam mengapresiasi budaya. Musik tidak hanya dikonsumsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas digital dan gaya hidup.

Estetika retro yang menyatu dengan teknologi modern menciptakan perpaduan antara masa lalu dan masa kini dalam bentuk baru.

Playlist seperti City Pop Indo atau Aesthetic Indonesia 80’s kini banyak diikuti, menandakan bahwa musik dari masa lalu masih memiliki daya tarik yang kuat.

Hal ini menunjukkan bahwa selera musik bukan hanya soal tren saat ini, tetapi juga soal koneksi emosional yang lebih dalam.

Kesimpulan

Kembalinya popularitas musik pop kreatif era 80-an di kalangan generasi muda merupakan hasil dari kombinasi antara algoritma digital, dinamika tren estetika, dan kebutuhan emosional.

Musik dari masa lalu menjadi medium yang relevan untuk menjawab kebutuhan kontemporer—baik sebagai sarana hiburan, pelarian, maupun penegas identitas budaya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa konten lawas tetap memiliki ruang dalam lanskap musik masa kini, terutama jika disajikan kembali dengan pendekatan yang sesuai dengan gaya hidup dan selera generasi muda. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#indonesia #pop kreatif #City Pop #retro #sportify #lagu lawas