Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Viralnya Tren Bikin Foto Ala Animasi Ghibli Pakai ChatGPT Tuai Kontroversi, Simak Alasannya!

Yuan Edo Ramadhana • Senin, 31 Maret 2025 | 19:00 WIB
(Dok. Ghibli Sstudio)
(Dok. Ghibli Sstudio)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bagi para pecinta budaya populer Jepang, berbagai film animasi karya Ghibli Studio merupakan ikon-ikon yang sulit untuk ditandingi. Banyak karya studio yang didirikan oleh Hayao Miyazaki dan kawan-kawannya tersebut menjadi karya seni lintas generasi, seperti My Neighbor Totoro, Princess Mononoke, Howl’s Moving Castle dan Porco Rosso.

Baru-baru ini jelang momen lebaran, salah satu perusahaan kecerdasan buatan (AI) ternama, OpenAI mengenalkan update model AI terbarunya bertajuk ChatGPT-4o. Dalam salah satu demonstrasi update, CEO OpenAI, Sam Altman mengubah foto profil kanal media social pribadinya menjadi mirip aliran seni yang dipopulerkan Ghibli Studio, sehingga memantik tren baru bagi masyarakat dunia.

Menurut Altman dalam rilis resmi perusahaannya, model AI ciptaannya dan kawan-kawannya sengaja diarahkan untuk mempelajari karya populer untuk menghindari penggunaan karya seni personal sebagai bahan pembelajaran mesin AI.

“Kami telah menambahkan fitur untuk mencegah pengguna membuat sebuah gambar berbasis seniman yang masih hidup, sehingga mengizinkan gaya studio yang punya cakupan lebih luas memungkinkan penggemar mereka berkreasi dan membagikan kreasi mereka,” jelasnya.

Bahkan saking ramainya para pengguna ChatGPT berbondong-bondong mengubah foto mereka bak Ghibli Studio, Altman mengaku server miliknya sempat kewalahan.

“Senang rasanya melihat masyarakat menggunakan ChatGPT, tapi GPU milik kami sampai meleleh (kepanasan),” ujar Altman di akun media sosialnya.

Menariknya, Miyazaki telah jauh-jauh hari memperkirakan penggunaan kecerdasan buatan dalam memproduksi karya seni. Sebagaimana yang diutarkannya dalam dokumentar NHK tentang dirinya dan studio pimpinannya pada 2016 lalu, animator legendaris Jepang tersebut menentang keras penggunaan kecerdasan dalam presentasi teknologi animasi yang dihadirinya.

“Yang membuat terknologi ini tidak tahu apa itu usaha. Saya tidak ingin menggunakan teknologi ini dalam karya saya, saya rasa ini merupakan penghinaan terhadap kehidupan. Benar ternyata kita ada di akhir zaman, bahkan manusia kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri,” ujar Miyazaki saat itu.

Memang saat itu pengembangan kecerdasan buatan visual belum secanggih saat ini, dan demonstrasi yang ditampilkan kepada Miyazaki adalah perancangan kerangka animasi tiga dimensi untuk film horor. Namun seiring maraknya penggunaan AI untuk meniru karya-karyanya, kutipan dari dokumenter tersebut seringkali digunakan penggemar Ghibli Studio sebagai ungkapan penolakan dan ketidakpuasan.

Animator dan direktur animasi asal Amerika Serikat, Henry Thurlow juga merupakan salah satu kritik dari tren Ghiblifikasi menggunakan AI, terutama jika digunakan untuk meraup keuntungan. Selain itu Henry juga berargumen bahwa penggunaan AI juga menunjukkan kurangnya apresiasi terhadap proses cipta karya.

“Saya tidak tahu apa yang diinginkan oleh pengguna AI untuk Ghiblifikasi, terutama karena hal seperti ini tidak sah digunakan untuk meraup keuntungan. Jika memang digunakan untuk sekedar bersenang-senang ya sudah, namun jika digunakan untuk mencari uang lebih baik mundur dari industri seni,” ungkapnya di kanal media sosial pribadinya.

Selain itu dari sisi hukum, timbul pertanyaan mengenai izin penggunaan karya studio sebagai bahan pembelajaran AI sebagaimana diungkapkan Altman dan OpenAI. Namun menurut pegiat hukum, ketentuan ini juga masih berada dalam zona abu-abu.

“Secara umum, sebuah aliran seni memang tidak dapat dimasukkan dalam perlindungan hak cipta. Namun yang dapat menimbulkan pelanggaran hak cipta adalah penggunaan gaya visual diskrit dalam karya seni,” jelas pengacara LBH Pryor Cashman, Joshua Weisenberg dalam artikel milik perusahaannya.

Tentu menurut Joshua, selama karya seni tersebut memang diizinkan untuk menjadi bahan pembelajaran AI, maka tidak ada masalah.

“Masalah baru muncul jika karya seni digunakan tanpa izin,” tambah pengacara sepasialis bidang industri hiburan tersebut. (edo/cho)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#ghibli #Hayao Miyazaki #kecerdasan buatan #ghibli studio #Lebaran #ChatGPT #openai #jepang #tren #My Neighbor Totoro #animator #ai #Sam Altman #Howl's Moving Castle