RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Regenerasi petani menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Bojonegoro. Selain didominasi petani berusia di atas 50 tahun, jumlah petani aktif juga terus mengalami penurunan. Kondisi tersebut dinilai harus segera diatasi agar keberlanjutan sektor pertanian tidak terancam.
Sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Organisasi Daerah (ICMI Orda) Bojonegoro, Awaludin Ridwan, mengatakan regenerasi petani tidak lagi cukup dibahas sebatas wacana. Menurutnya, penurunan jumlah petani menjadi sinyal serius yang memerlukan langkah konkret.
Berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah petani aktif di Bojonegoro turun dari sekitar 91.981 orang menjadi 73.495 orang. Artinya, dalam beberapa tahun terakhir jumlah petani berkurang lebih dari 18 ribu orang. Sementara itu, mayoritas petani yang masih aktif kini berusia di atas 50 tahun.
Baca Juga: Minim Regenerasi Petani, DKPP Bojonegoro Dorong Lewat Akses Permodalan
"Kalau kondisi ini dibiarkan, siapa yang akan mengelola pertanian Bojonegoro dalam 10 hingga 20 tahun ke depan?" ujarnya.
Ridwan menilai, berbagai program regenerasi petani yang selama ini dijalankan belum memberikan dampak nyata. Menurutnya, upaya regenerasi tidak cukup diwujudkan melalui seminar atau kampanye petani milenial semata.
Ia menegaskan, regenerasi harus diikuti dengan kebijakan yang benar-benar mendukung generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, mulai dari kemudahan akses lahan, permodalan, teknologi, hingga kepastian pasar bagi hasil pertanian.
"Regenerasi harus dibuktikan dengan akses lahan, modal, teknologi, dan kepastian pasar, bukan sekadar seminar dan jargon petani milenial," tegasnya. (irv/zim)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah