Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Biaya Produksi Petani di Musim Kemarau semakin Tinggi

Dewi Safitri • Jumat, 17 Juli 2026 | 08:00 WIB
PADI DI MUSIM KEMARAU: Pemkab sudah melarang petani tidak menanam padi di musim kemarau, tetap petani di Kecamatan Dander bertekad tetap menanamnya, dengan biaya produksi lebih tinggi. (HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)
PADI DI MUSIM KEMARAU: Pemkab sudah melarang petani tidak menanam padi di musim kemarau, tetap petani di Kecamatan Dander bertekad tetap menanamnya, dengan biaya produksi lebih tinggi. (HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Meski memasuki musim kemarau, petani di Kecamatan Dander tetap menanam padi. Sehingga, membutuhkan biaya operasional yang lebih tinggi.

‘’Semuanya ditanami padi, kanan kiri sawah saya juga ditanami padi. Jadi, ikut menanam padi,’’ kata slaah satu petani di Kecamatan Dander, Darmini.

Darmini mengatakan, tetap menanam padi di musim kemarau. Karena rerata sawah di sekitarnya masih ditanami padi meski tidak ada hujan.

Baca Juga: 400 Hektare Tanaman Padi di Bojonegoro Terancam Gagal Panen

Meski ada sumber air bor di sawah-sawah daerahnya. Namun, ada tantangan tersendiri menanam padi di musim kering ini. Salah satunya, biaya produksi yang jauh meningkat dibanding musim penghujan.

Setiap kali mengairi sawah memakan biaya di atas Rp 100.000. Dan, di musim ini, tanah di sawah cepat kering. Sedangkan tanaman padi, membutuhkan banyak air, tidak bisa di tanah kering.

‘’Biayanya lebih mahal. Sebentar-bentar mengairi sawah. Dari tanam hingga sekarang, sudah habis lebih dari satu juta untuk pengairan. Padahal padinya masih kecil, belum berbuah. Apalagi tidak memiliki sumur sendiri, jadi lebih banyak pengeluarannya,’’ keluhnya.

Baca Juga: Petani Bojonegoro Mulai Panen Padi, Harga Padi Tembus Rp 7.200

Terpisah, petani padi asal Kecamatan Sumberejo, Surya mengatakan, memilih menanam padi di musim kemarau ini. Namun, belum merasa ada kesulitan tertentu. Karena baru dalam tahap penyemaian.

‘’Untuk saat ini belum ada kesulitan, soalnya baru penyemaian,’’ terangnya.

Terkait ketersediaan air, petani muda tersebut menyebutkan, tidak ada masalah. Karena di desanya, hanya sebagian kecil yang ditanami padi. Kebanyakan petani di sana, memilih menanam kedelai di musim ini.

‘’Untuk persediaan (air), insya Allah aman. Airnya dari sungai yang dibendung,’’ jelasnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani menyampaikan, sudah ada surat edaran dari Bupati Bojonegoro untuk tidak tanam padi pada musim tanam 3, kalau memang tidak tersedia air.

Namun, jika masih ada petani yang menanam padi dan terancam gagal akibat kekeringan. Jika usia tanam masih di bawah satu bulan per-20 Juli 2026, maka akan didaftarkan suransi usaha tani padi (AUTP). Dan, jika di atas usia tersebut, akan diusahakan untuk diberikan bantuan bibit padi.

‘’Alhamdulilah, musim tanam ke 2, semua pertanaman kita selamat, semua bisa panen,’’ ujarnya. (ewi/msu)

Editor : Hakam Alghivari
Musim Kemarau bojonegoro Tanam padi biaya produksi