RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Profesi guru yang selama ini dikenal sebagai pilar pendidikan mulai menghadapi tantangan baru di era modern. Di kalangan Generasi Z, minat terhadap profesi ini disebut mulai menurun, dengan faktor kesejahteraan menjadi salah satu pertimbangan utama.
Pandangan tersebut muncul seiring perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia kerja. Tidak hanya soal pengabdian, aspek finansial dan keseimbangan hidup kini turut dipertimbangkan.
Yana Fitri Oktavia, mahasiswi yang kini duduk di semester 2, mengatakan bahwa minat terhadap profesi guru memang tidak setinggi dulu. Gadis berusia 20 tahun itu melihat banyak anak muda mulai berpikir realistis terhadap kondisi di lapangan. “Terutama karena Gen Z kurang sabar dan juga gajinya kecil,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui profesi guru tetap diminati oleh mereka yang benar-benar memiliki panggilan hati di bidang pendidikan. “Tapi, menurut pendapat saya, profesi guru masih diminati bagi yang memang menjadikannya sebagai panggilan hati, bukan karena gaji atau hal lainnya,” tambahnya.
Bagi sebagian Generasi Z, pilihan karier kini cenderung diarahkan pada pekerjaan dengan pendapatan lebih tinggi. Perempuan yang akrab disapa Okta itu bahkan mengungkapkan bahwa dirinya, dengan latar pendidikan keguruan, akan mempertimbangkan jalur lain terlebih dahulu.
“Kalau saya lulusan S.Pd dengan realitas di Indonesia yang gajinya tidak sepadan, lebih baik saya mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih besar,” katanya.
Pandangan serupa juga muncul dari kalangan pelajar. Luthfi Yus Anisa, siswa kelas 3 SMA negeri di Bojonegoro, menyebut minat menjadi guru masih ada, namun tidak dominan di kalangan teman sebayanya. “Beberapa masih berminat, termasuk teman saya. Namun, rata-rata Gen Z banyak yang ingin menjadi wirausaha,” katanya.
Luthfi menilai faktor kesejahteraan, terutama bagi guru honorer, menjadi salah satu alasan utama menurunnya minat tersebut. “Mungkin beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya minat menjadi guru adalah gajinya, apalagi bagi honorer. Banyak yang berpikir lebih baik mencari pekerjaan lain daripada menjadi honorer,” jelasnya.
Meski begitu, Luthfi tetap memandang profesi guru sebagai pekerjaan yang memiliki nilai tinggi. Baginya, peran guru tidak tergantikan dalam proses pendidikan. “Guru itu ibarat emas, karena selaras dengan tujuan saya dalam pendidikan, yaitu untuk mencari ilmu,” ungkapnya.
Pergeseran cara pandang generasi muda terhadap profesi guru mulai terlihat. Di satu sisi, nilai pengabdian tetap diakui. Namun, di sisi lain, realitas kesejahteraan menjadi pertimbangan yang tidak dapat diabaikan. (kam/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana