Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Bulog Bojonegoro Targetkan Penyerapan 90.242 Ton, Namun Petani Enggan Jual Gabah ke Bulog

Dewi Safitri • Rabu, 28 Januari 2026 | 07:15 WIB
MULAI PANEN: Petani di Kecamatan Dander Mulai panen, harga pembelian bulog lebih murah, dibanding ke tengkulak.
MULAI PANEN: Petani di Kecamatan Dander Mulai panen, harga pembelian bulog lebih murah, dibanding ke tengkulak.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Musim panen padi mulai tiba, petani enggan menjual hasil panennya ke Bulog. Alasannya, harga jual di Bulog lebih murah. Selain itu, administrasinya ribet, karena tidak langsung cair, menunggu proses beberapa hari setelah pengiriman gabah.

Namun, Perum Bulog Cabang Bojonegoro tetap menyerap hasil panen petani. Hingga akhir Januari 2026 ini, telah menyerap gabah kering panen (GKP) 138 ton atau setara 70 ton beras. Dari total target penyerapan 90.242 ton tahun ini.

Menurut Agip, petani Kecamatan Dander, telah memanen padinya di sawah pada 18 Januari lalu. Namun, tidak menjualnya ke Bulog karena harganya lebih murah.

Melainkan, menjual ke penebas timbangan dengan harga Rp 6.700 per kilogram (kg) untuk GKP. Dengan biaya combine atau proses panen dari awal hingga selesai sudah ditanggung oleh penebas.

“Harganya beda-beda. Kalau saya kemarin, alhamdulillah ditebas dengan harga Rp 6.700 per kg. Ada juga yang hanya Rp 6.500 per kg,” katanya.

Menurutnya, harga GKP bisa lebih mahal dari harga tersebut. Jika proses pemanenan dilakukan dan ditanggung sendiri. Kemudian, baru dijual ke tengkulak atau penggilingan.

“Kalau biaya combine hingga kuli atau pengusung gabahnya dibayar pribadi. Harga GKP bisa dibeli sampai dengan Rp 7.000 per kg. Tapi, karena ini ditebas, petani tidak mengeluarkan biaya panen sama sekali. Jadi diharga sekitar Rp 6.500- Rp 6.700 tadi,” katanya.

Hal sama diutarakan oleh Darmini, petani di Desa Sumberarum, Kecamatan Dander tersebut mengatakan, telah menjual gabahnya ke penebas. Karena dinilai lebih praktis dan harganya lebih tinggi. Dengan harga jual Rp 6.500 hingga Rp 6.7000 per kg, petani tidak perlu mengeluarkan biaya panen.

Di samping itu, ia juga mengaku, belum pernah menjual hasil panennya langsung ke Bulog. Baik gabah maupun jagung.

"Dijual ke penebas, rerata petani di daerah sini begitu. Belum pernah menjual gabah atau jagung langsung ke Bulog selama ini," terangnya.

Kepala Perum Bulog Cabang Bojonegoro Ferdian Dharma Adtmaja menyampaikan, Bulog telah menyerap 138 ton GKP atau setara dengan 70 ton beras per 25 Januari 2026. Seperti tahun sebelumnya, saat ini mulai ada yang menjual hasil panennya ke Bulog. Dengan harga Rp 6.500 per kilogram (kg). Masih sama seperti harga di 2025 lalu.

“Mulai ada yang menjual ke Bulog. Sama seperti tahun lalu. Namun, belum banyak. Karena yang panen juga belum banyak,” ujarnya.

Terkait target penyerapan Bulog tahun ini, Ferdian sapaannya mengatakan, target pengadaan untuk Bulog Cabang Bojonegoro. Diantaranya, 90.242 ton untuk GKP dan 12.000 ton untuk gabah kering giling (GKG). Atau setara beras 81.211 ton. Kemudian, untuk pengadaan beras pada target tahun ini sekitar 27.748 ton.

“Baru 70 ton yg baru masuk sampe hari ini,” terangnya. (ewi/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Bulog #jagung #musim panen #Petani #GKP #gkg #dander #panen padi #bojonegoro #padi #hasil panen #gabah kering