RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sejumlah pekerja di Bojonegoro memilih berkarir di sektor informal karena dinilai lebih fleksibel dan tidak terikat aturan kerja formal. Faktor kebebasan mengatur waktu menjadi alasan utama. Selain peluang menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan.
Pekerja Informal asal Kecamatan Sumberrejo, Nia Dina mengatakan, memilih berjualan aneka makanan sendiri di rumah. Berkreasi membuat berbagai olahan makanan untuk dijual. Selain karena cukup menghasilkan.
Dalam pekerjaan ini, ia tidak terikat pada lembaga dan bebas mengatur waktu sendiri. Dengan begitu, lebih memiliki banyak waktu di rumah bersama keluarga. “Tidak terikat, bisa menentukan jam kerja sendiri,” katanya.
Selain fleksibilitas, sektor informal juga menjadi alternatif sumber penghasilan tambahan. Tidak sedikit pekerja formal yang memanfaatkan sektor ini sebagai pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan.
Salah satunya freelancer asal Kecamatan Dander bernama Fahri mengaku, memilih pekerjaan informal sebagai penghasilan tambahan. Karena fleksibilitas sektor informal, dimana waktu dan tempat pekerjaan yang bisa diatur sendiri menjadi sebuah peluang untuk meraup pendapatan lebih.
“Sebagai tambahan penghasilan. Kalau siang bekerja di sektor formal. Kalau malam dan ada pekerjaan freelance yang masuk, bekerja di sektor informal,” ujar Fahri.
Terpisah, Rini, buruh tani asal Desa Sumberarum, Kecamatan Dander mengatakan, sering bekerja sebagai buruh tani di ladang milik orang. Hal ini dilakukan karena memang tidak ada pekerjaan lain.
Sehingga, untuk mendapat penghasilan, ia dan beberapa tetangga memilih untuk bekerja sebagai buruh tani. Dengan upah sekitar Rp 50.000 untuk waktu kerja setengah hari dan sekitar Rp 80.000-Rp 100.000 untuk full satu hari, pagi hingga sore.
“Kadang buruh maton (membersihkan rumput di sawah), buruh memupuk, sampai panen. Tergantung musim dan adanya pekerjaan,” katanya. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana