Oleh :
Bachtiar Febrianto
Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Di balik deretan pipa migas, hamparan hutan jati, dan derasnya arus Bengawan Solo, Kabupaten Bojonegoro menyimpan satu paradoks besar. Dengan pendapatan daerah yang bertahun-tahun ditopang oleh Dana Bagi Hasil (DBH) Migas, Bojonegoro menjadi kabupaten dengan salah satu APBD terbesar di Jawa Timur. Namun pertumbuhan ekonomi dan investasi belum berlari secepat harapan. Angka kemiskinan masih dua digit, dan geliat bisnis belum seramai yang seharusnya.
Itu berarti Bojonegoro butuh pemantik baru: Sebuah magnet yang tidak hanya menarik perhatian, tapi juga mendatangkan ribuan orang dan menggerakkan ekonomi daerah. Satu peluang pemantik itu yaitu: Sportourism.
Wisata Alam Sudah Dicoba, Tapi Tantangan Geografis Tak Bisa Diabaikan
Beberapa tahun terakhir Pemkab Bojonegoro gencar memoles objek wisata alamnya. Kayangan Api dipercantik, Geopark Wonocolo dipromosikan, wisata hutan dan sungai mulai ditata. Namun kunjungan wisata belum stabil.
Masalahnya bukan kurang usaha, tapi kondisi geografis. Sebagai daerah dataran rendah yang panas, Bojonegoro sulit bersaing dengan destinasi dataran tinggi seperti Batu, Banyuwangi, atau Malang yang menawarkan udara sejuk, pemandangan pegunungan, dan suasana yang langsung “menjual”.
Wisata Bojonegoro perlu strategi berbeda. Bukan mengandalkan alam yang statis, tapi menghadirkan aktivitas yang dinamis dan berulang.
Belajar dari Banyuwangi: Dari Daerah Transit Menjadi Bintang Baru Pariwisata
Jika ada daerah yang berhasil mengubah nasibnya secara dramatis, Banyuwangi adalah contohnya. Dua dekade lalu, kabupaten paling timur Jawa itu hanya dikenal sebagai “pintu masuk menuju Bali”. Sepi, panas, dan dilewati begitu saja.
Namun semuanya berubah ketika Banyuwangi berani menggebrak dengan ratusan event mulai dari Tour de Ijen, Banyuwangi Festival, Ijen Green Run, hingga event budaya berkelas , seperti festival gandrung sewu, dll.
Dampaknya luar biasa: Hotel tumbuh, UMKM bangkit, bandara ramai, dan kunjungan wisata meningkat jutaan orang setiap tahun. Banyuwangi menjadi bukti bahwa event dapat mengubah image daerah, ekonomi, bahkan masa depan. Jika Banyuwangi bisa, Bojonegoro bisa.
Bojonegoro Punya Modal Lengkap untuk Jadi Kota Event
Banyak yang tidak menyadari bahwa Bojonegoro sebenarnya sudah punya panggung besar: GOR Dabonsia, venue berkelas yang menjadi lokasi kompetisis voli ball tingkat nasional, Livoli. Stadion Letjen Sudirman, markas Persibo, tim legendaris yang pernah juara Indonesia. Bengawan Solo, sangat potensial untuk festival dayung, kano, atau sport water adventure. Perbukitan dan hutan luas ideal untuk trail run, downhill, atau offroad event.
Dan ada satu modal penting lainnya: Akomodasi. Meski tidak sepopuler kota wisata besar, Bojonegoro memiliki puluhan hotel dan penginapan berbagai kelas dari hotel bintang tiga, hotel bisnis, hingga homestay yang tersebar di pusat kota dan sekitar kawasan industri. Fasilitas ini jauh lebih lengkap dibandingkan banyak daerah lain yang baru ingin masuk ke dunia sportourism.
Saat Radar Bojonegoro menggelar Bojonegoro Playon Night Run, okupansi hotel-hotel di Kota Ledre itu mendadak meningkat. Padahal event tersebut masih berskala regional. Ini bukti kecil betapa event mampu memicu perputaran ekonomi secara cepat.
Saatnya Event Menjadi Magnet Utama, Wisata Alam Menjadi Pelengkap
Strategi Bojonegoro sebaiknya dibalik. Bukan menjadikan objek wisata sebagai magnet utama, melainkan event sebagai daya tarik terbesar. Ketika ribuan orang datang mengikuti lomba lari, bersepeda, menonton turnamen voli, atau menghadiri festival olahraga air, mereka otomatis akan mencari kuliner lokal, penginapan, dan kesempatan berwisata. Dari sini, obyek wisata setempat ikut terangkat sebagai bonus pengalaman.
Bojonegoro bisa membuat kalender event besar, seperti: Bojonegoro Marathon, Bengawan Solo Kayak Festival, Tour de Bojonegoro, Hutan Jati Ultra Trail, Bojonegoro Voli Open, Festival Olahraga Air Bengawan, Mountain Bike Downhill Championship, dll. Tentu saja pelaksanaannya harus se-profesional mungkin agar menarik perhatian.
Setiap event pasti membawa dampak ekonomi, bukan hanya sehari, tapi menciptakan ekosistem bisnis baru.
Bojonegoro Tinggal Menyalakan Mesinnya
Dengan APBD kuat, fasilitas lengkap, komunitas olahraga aktif, dan akomodasi memadai, Bojonegoro sebenarnya tinggal mengambil langkah berani: Menjadikan event dan sportourism sebagai strategi utama kebangkitan ekonomi.
Contoh Banyuwangi mengajarkan bahwa daerah bisa berubah total hanya dengan satu kata kunci: Event.
Jika Bojonegoro berani memulai, masa depan ekonomi daerah bisa bergerak lebih cepat dari yang dibayangkan. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana