RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Regenerasi petani muda di Bojonegoro terus tumbuh. Namun, belum seluruhnya terwadahi dalam kelompok tani (poktan) milenial. Sehingga, masih bergerak secara mandiri dan belum terdata secara resmi.
Eko salah satu petani milenial menyampaikan, sudah mulai berkecimpung di dunia pertanian sejak masih sekolah. Tapi, saat itu hanya membantu orang tua di ladang. Sekarang, turut menggarap lahan sendiri sebagai tambahan penghasilan.
Meski begitu, ia mengaku, tidak bergabung dalam poktan milenial. Hanya menjalani aktivitas bertani sebagaimana mestinya. Tanpa bergabung dengan organisasi atau kelompok pertanian tertentu. ’’Saya kurang tahu tentang adanya poktan milenial. Juga, tidak ikut bergabung,” ujar laki-laki 34 tahun tersebut.
Terpisah, Evi Dwi alumni Fakultas Pertanian Universitas Trunojo Madura (UTM) mengatakan, di lingkungan tempat tinggalnya banyak petani milenial usia rerata sekitar 30 tahunan. Mengingat, mayoritas penduduk memang sebagai petani.
Jadi, tidak sedikit pasangan yang sudah menikah mengikuti jejak orang tuanya untuk bertani. Baik, menggarap lahan sawah maupun hutan.
’’Saudara hingga tetangga, banyak yang petani milenial. Rerata menanam tanaman pangan, seperti jagung atau padi. Belum pada inovasi perkebunan, seperti sayur atau buah. Setahu saya, juga tidak bergabung pada poktan khusus milenial,” terang perempuan asal Kecamatan Dander tersebut. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana