RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setiap bulan Agustus tiba, bendera merah putih mulai berkibar di depan rumah, kantor, hingga tiang-tiang jalan. Di sela semarak itu, hadir sosoksosok gigih yang tak pernah absen mengiringi datangnya bulan kemerdekaan, yakni para pedagang musiman dari luar kota.
Salah satunya adalah Ampi, pedagang asal Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ia telah menempuh jarak lebih dari 600 kilometer setiap tahunnya, hanya untuk membuka lapak sederhana di trotoar Jalan HOS Cokroaminoto, Kecamatan Bojonegoro Kota.
’’Sudah sejak 2016 saya jualan di sini, setiap tahunnya selalu ke Bojonegoro,” ujar Ampi saat ditemui Radar Bojonegoro, Kamis (31/7). Di bawah terik matahari, ia menata rapi tumpukan bendera berbagai ukuran, umbul-umbul, hingga dekorasi panggung.
Di kampung halamannya, ia dikenal sebagai perajin sekaligus pedagang musiman. Sebab, desa tempat tinggalnya memang menjadi pusat produksi bendera di Garut, sebuah usaha turun-temurun yang menggantungkan harapan hidup dari momen kemerdekaan.
’’Karena di kecamatan saya, memang pusat pengrajin bendera. Dan, ada tujuh teman saya yang sekarang juga berjualan di Bojonegoro,” jelasnya.
Meski hanya berlangsung sekitar lima pekan, Agustus menjadi bulan paling menentukan dalam hidup mereka. Jika cuaca mendukung dan arus pembeli lancar, hasilnya bisa menutup kebutuhan rumah tangga selama berbulan-bulan.
’’Harganya bervariasi, mulai Rp 10.000 sampai paling mahal Rp 250 ribu. Biasanya mulai ramai kalau sudah dekat tanggal 17 Agustus,” tambahnya.
Namun, tak jarang pula mereka pulang dengan hasil pas-pasan karena dagangan tak laku atau hujan turun berkepanjangan. (dan/bgs)