Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Waduk-Waduk Penyelamat Bojonegoro: Bertani di Tengah Ladang Migas

M. Nurcholis • Kamis, 19 Juni 2025 | 17:19 WIB
Keberadaan aliran Bengawan Bengawan Solo di Bojonegoro menjadi penting bagi kebutuhan petani.
Keberadaan aliran Bengawan Bengawan Solo di Bojonegoro menjadi penting bagi kebutuhan petani.


RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Meski dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas (migas) terbesar di Jawa Timur, ternyata lebih dari 60 persen warganya masih menggantungkan hidup dari sektor agraris (pertanian). Di tengah ancaman kekeringan dan perubahan iklim, keberadaan Bengawan Solo, waduk dan embung menjadi penyelamat utama untuk pengairan pertanian.

Kabupaten Bojonegoro memiliki sejumlah infrastruktur pengairan yang strategis, mulai dari sungai Bengawan Solo hingga waduk-waduk besar dan ratusan embung desa.

Di sinilah denyut kehidupan para petani terus berputar, terlebih saat musim kemarau datang.

Waduk Pacal: Warisan Kolonial yang Masih Jadi Andalan

Waduk Pacal yang dibangun pada masa kolonial Belanda tahun 1933 merupakan salah satu tulang punggung irigasi di wilayah barat Bojonegoro. Waduk ini mampu menampung hingga 41 juta meter kubik air dan mengairi belasan ribu hektare sawah. Sayangnya, endapan lumpur yang kian menumpuk menyebabkan kapasitas efektifnya menyusut drastis.

Kabupaten Bojonegoro diharapkan menjadi andalan dalam lumbung pangan dan energi.
Kabupaten Bojonegoro diharapkan menjadi andalan dalam lumbung pangan dan energi.

“Saat musim kemarau seperti sekarang, volume air Waduk Pacal bisa tinggal separonya. Ini sangat berdampak pada petani, terutama yang berada di ujung saluran irigasi,” kata Rahmat, petani asal Kecamatan Temayang.

Waduk Gongseng: Proyek Strategis Nasional untuk Masa Depan

Berbeda dengan Waduk Pacal yang sudah uzur, Waduk Gongseng adalah wajah baru pertanian Bojonegoro. Resmi dibuka Presiden RI tahun 2021, waduk ini memiliki kapasitas tampung lebih dari 22 juta meter kubik dan bisa mengairi lebih dari 6.200 hektare sawah.

Tak hanya untuk irigasi, Waduk Gongseng juga berfungsi sebagai penyedia air baku bagi ratusan ribu warga di empat kecamatan, sekaligus pengendali banjir dengan kapasitas debit hingga 121 meter kubik per detik.

Waduk Pejok dan Rowoglandang: Harapan Baru di Timur dan Utara

Warga di wilayah timur Bojonegoro menaruh harapan besar pada Waduk Pejok di Kecamatan Kepohbaru. Waduk ini ditargetkan dapat mengairi 3.600–5.000 hektare lahan pertanian dan memungkinkan petani melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.

Keberadaan aliran Bengawan Bengawan Solo di Bojonegoro menjadi penting bagi kebutuhan petani.
Keberadaan aliran Bengawan Bengawan Solo di Bojonegoro menjadi penting bagi kebutuhan petani.

Sementara itu, Waduk Rowoglandang di Kecamatan Tambakrejo juga dikembangkan tidak hanya untuk irigasi, tetapi juga mendukung usaha perikanan air tawar dan pariwisata desa.

Ratusan Embung Desa: Solusi Lokal Hadapi Kekeringan

Sejak tahun 2013, Pemkab Bojonegoro telah membangun lebih dari 500 embung desa. Embung-embung ini tersebar di 28 kecamatan dan berfungsi sebagai penampung air hujan yang sangat berguna saat musim kemarau panjang.

Tahun 2021 lalu, pemerintah kembali menambah 20 embung baru di lima kecamatan, termasuk Kalitidu dan Gayam yang merupakan daerah penyangga migas.

Modernisasi Irigasi Jadi Kunci Keberlanjutan

Meski sudah banyak infrastruktur dibangun, tantangan tetap ada. Sebagian besar saluran irigasi primer dan sekunder dalam kondisi rusak atau butuh rehabilitasi. Tahun 2022 lalu, pemerintah daerah memperbaiki 114 titik jaringan irigasi sepanjang hampir 19 km.

Ke depan, modernisasi irigasi berbasis pompa listrik dan sistem terintegrasi berbasis peta air menjadi langkah strategis yang tengah disiapkan untuk menjamin distribusi air yang adil dan efisien.

Menjaga Bojonegoro Tetap Hijau

Di tengah geliat industri migas, Bojonegoro tak boleh lupa akar utamanya: pertanian. Waduk, embung, dan sungai bukan sekadar infrastruktur, melainkan nadi kehidupan ribuan keluarga petani.

Jika keberlanjutan pertanian ingin dijaga, maka investasi pada infrastruktur air harus terus diperkuat. Karena dari sinilah, ketahanan pangan dan ekonomi lokal tetap bisa berdiri tegak. (feb/cho)

Editor : M. Nurcholis
#Jawa Timur #Panen #waduk #bengawan solo #Petani #waduk gongseng #exxonmobil #Pertanian #Waduk Pejok #embung #bojonegoro #blok cepu #Waduk Pacal #agraria #migas