RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kelangkaan elpiji 3 kilogram (kg) di beberapa wilayah terutama bagian barat membuat akademisi ekonomi angkat bicara. Mendesak pemerintah mengatur harga hingga meningkatkan efisiensi distribusi.
Harusnya pemerintah dinilai dapat menganalisis penyebab kelangkaan. ‘’Kelangkaan ini disebabkan beberapa faktor,’’ sebut Akademisi Ekonomi Retno Muslinawati kemarin (24/4).
Dia melanjutkan, faktor tersebut di antaranya ketidakseimbangan permintaan dan penawaran. Jika permintaan meningkat sedangkan penawaran tidak seimbang maka terjadi kelangkaan.
Kemudian, distribusi yang tidak efektif. Jika di beberapa wilaya mengalami kelangkaan sedangkan stok wilayah lain cukup maka distribusi dinilai tidak efektif.
‘’Penyebab lainnya harga tidak sesuai. Jika tidak sesuai harga distribusi dan produksi, maka produsen mungkin tidak memiliki insentif untuk memproduksi dan mendistribusikan elpiji 3 kg secara cukup,’’ ujarnya.
Dia menambahkan, ada beberapa kemungkinan lain tentang kelangkaan elpiji 3 kg. Dari ketergantungan impor yang bisa terjadi jika terganggu atau tidak memenuhi kebutuhan domestik.
Kemudian, infrastruktur yang tidak memadai seperti pelabuhan, gudang, dan jaringan distribusi. Serta, inefisiensi dan perubahan musim dan cuara.
Baca Juga: Pangkalan Gas Melon di Bojonegoro Bertambah, Namun Warga dan Pengecer Keluhkan Kelangkaan Elpiji
‘’Jika perubahan musim dan cuaca memengaruhi produksi maka kelangkaan dapat terjadi,” jelasnya.
Sehingga, pemerintah harus melakukan tindakan menyikapi kelangkaan gas melon. Meliputi meningkatkan penawaran, meningkatkan efisiensi distribusi dengan memperbaiki infrastruktur dan sistem logistik, mengatur harga untuk memastikan kesesuaian dengan biaya produksi dan distribusi, serta mengoptimalkan subsidi.
‘’Pemerintah dapat mengoptimalkan subsidi, memastikan bahwa subsidi itu efektif dan efisien dalam membantu masyarakat membutuhkan,’’ lanjut Dosen Universitas Bojonegoro (Unigoro) itu.
Selain itu, lanjut dia, pemerintah harus meningkatkan produksi domestik, infrastruktur, transparansi dan akuntabilitas, serta mengembangkan strategi mitigasi. Memastikan bahwa kebutuhan masyarakat terpenuhi. ‘’Adanya transparansi dan akuntabilitas dalam sistem distribusi gas melon dapat mengurangi korupsi dan inefisiensi,” tandasnya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana