Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menengok Budidaya Burung Puyuh di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander

Yuan Edo Ramadhana • Rabu, 6 November 2024 | 15:00 WIB
BUDIDAYA BURUNG PUYUH: Suwito memperlihatkan kandang-kandang burung puyuhnya di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. (AHMAD NAWAF TIMYATI FANDAWAN/RADAR BOJONEGORO)
BUDIDAYA BURUNG PUYUH: Suwito memperlihatkan kandang-kandang burung puyuhnya di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. (AHMAD NAWAF TIMYATI FANDAWAN/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Burung Puyuh memiliki ukuran kecil dan cenderung gemuk. Burung ini sendiri memang kerap kali sering berjalan. Tetapi, sebenarnya burung puyuh memiliki kemampuan berjalan dan terbang dengan kecepatan tinggi. Namun, dalam jarak tempuh yang pendek.

Namun, ada juga beberapa jenis yang mampu terbang dengan jarak tempuh jauh. Beberapa jenis burung puyuh ini juga kerap dijadikan sebagai media bisnis. Karena bisa menghasilkan daya jual yang ekonomis dan menjanjikan mulai dari telur hingga burung puyuhnya. 

Hal ini dimanfaatkan Suwito. Pria asal Dusun Tempuran, Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro itu mengaku sudah mulai menjalankan usaha ini bermula dari hasil penetasan burung puyuh yang dilakukan di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban.

Namun, dalam selang waktu itu, Suwito beralih dari usaha penetasan telur menjadi budidaya pembibitan yang sampai sekarang masih berjalan. Dulu itu pas di Soko memang menetaskan sendiri. Tapi, sekarang sudah ada hubungan dengan pabrik pemasok itu jadi biasanya seminggu dikirim sekitar 2.500 sampai 3000 ekor,” ungkapnya.

Suwito sendiri mengaku beralih dari penetasan sendiri menjadi penadahan dari sebuah pabrik karena memang lebih kepada efisiensi. Mengingat permintaan pengiriman yang terkadang membludak dengan lamanya menunggu proses penetasan sendiri, Suwito lebih tertarik untuk bekerja sama dengan pemasok dari luar.

Dengan memanfaatkan gudang di sebelah rumahnya, Suwito berhasil membudidayakan ribuan burung puyuh mulai dari bibit kecil hingga burung puyuh besar. Mengenai tantangan sendiri, Suwito tidak terlalu merasakan hal itu sebagai suatu hal berat dikarenakan memang perawatan burung puyuh sangat mudah.

Burung puyuh hanya perlu diberi makan makanan khusus berupa sentrat atau yang lainnya dan dalam jadwal memberi pakannya burung puyuh tidak boleh diberi batasan dan harus dikasih makan tiap hari. Namun yang namanya budidaya pasti ada yang namanya tantangan itu sendiri seperti hewannya terserang penyakit dan sebagainya.

Kalau terkena penyakit ya ada tapi jarang kayak flu burung gitu. Tapi, kalau ketularan sama ayam, seumpama puyuhnya campur ayam gitu bisa kena terus ayamnya mati bisa menular ke puyuh juga bisa. Tapi, alhamdulillah sejauh ini tidak pernah sampai banyak yang mati gitu,” tandasnya.

Dalam penjualannya sendiri biasanya Suwito melalukan promosinya melalui media sosial seperti WhatsApp. Namun, memang kebanyakan pembelinya sudah ada keterikatan pelanggan dari usaha burung puyuh Suwito itu sendiri. Adapun pengirimannnya biasa mulai dari Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Wonogiri hingga Madura.

Mengenai harga jualnya sendiri Burung Puyuh tergolong tidak stabil karena tinggi rendahnya harga tergantung dengan pemasoknya. Jika pemasoknya telat dalam pembibitan, maka harga cenderung naik. 

Untuk saat ini harganya per ekor dibanderol Rp 3.600 ribu rupiah namun harga ini sewaktu-waktu bisa berubah. Untuk penghasilan ya bersih kira-kira Rp 3 jutaan lah,” pungkasnya. (naw/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#budidaya #telur burung #Burung Puyuh #burung #telur #dander #puyuh #bojonegoro