RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dua tahun berturut-turut gagal memanen membuat sebagian petani di Kecamatan Todanan, Blora, mulai meninggalkan sawah dan menjadi buruh hingga merantau. Bukan karena tak ingin bertani, melainkan lelah terus merugi akibat serangan hama tikus yang tak kunjung teratasi.
Petani Desa Karanganyar, Kecamatan Todanan, Arif Saifuddin mengatakan, serangan masif hama membuat sebagian lahan akhirnya tidak lagi ditanami. Petani memilih membiarkan sawah kosong, daripada kembali mengeluarkan modal untuk tanaman yang berisiko habis dimakan tikus.
‘’Dampaknya terasa hingga ke kehidupan sehari-hari. Warga yang selama ini menggantungkan hidup dari sawah mulai mencari pekerjaan lain,’’ jelasnya.
Baca Juga: Hama Tikus Serang 22 Desa di Todanan Blora, Mayoritas Petani Pilih Tak Tanami Sawah
Arif menyebut, sejumlah warga memilih menjadi buruh kasar dan kuli pasir. Sebagian lainnya merantau ke Sumatera hingga Kalimantan untuk bekerja di sektor pertambangan.
‘’Sejak kecil sampai sekarang, baru tahu warga petani beli beras. Biasanya tidak pernah membeli beras,” tuturnya.
Menurut dia, kondisi tersebut paling terasa di Desa Karanganyar, Sendang dan Wukirsari. Tidak sedikit anak muda, termasuk lulusan SMK, ikut memilih merantau karena lahan pertanian tidak lagi menjanjikan penghasilan.
‘’Yang banyak merantau ke tambang. Ada yang ke Sumatera, Kalimantan. Kerjanya di tambang emas,” jelasnya.
Baca Juga: Mayoritas ASN Blora Berstatus PPPK
Sebelumnya, Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora Ngaliman membenarkan peningkatan populasi tikus di Todanan. Menurutnya, tikus sebenarnya sudah lama menjadi persoalan di wilayah tersebut. Namun tahun ini serangannya jauh lebih banyak.
Salah satu pemicunya adalah pola tanam yang berlangsung hampir sepanjang tahun. Kondisi itu membuat ketersediaan makanan tikus tetap terjaga sehingga populasinya berkembang.
‘’Kemarin musim hujan bagus untuk menanam. Karena pangan tersedia, tikus terus berkembang biak,” jelasnya.
Ia mengatakan, pihaknya telah melakukan gerakan pengendalian bersama kelompok tani. Pestisida juga disiapkan untuk membantu menekan populasi tikus.
Bahkan, untuk jangka panjang, pemerintah mendorong penggunaan predator alami melalui rumah burung hantu. ‘’Selain itu, petani juga dikenalkan dengan ramuan bioyoso sebagai umpan pengendali tikus,” jelasnya. (hul/ind)
Editor : Hakam Alghivari