Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Regenerasi Petani Bojonegoro Tersendat, Anak Muda Enggan Bertani

D
Penulis: Dewi Safitri❯
PENEN : Petani sedang memanen padi di puncuk musim kemarau. Banyak anak muda saat ini tidak mau menjadi petani. (ANDIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
PENEN : Petani sedang memanen padi di puncuk musim kemarau. Banyak anak muda saat ini tidak mau menjadi petani. (ANDIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Regenerasi petani masih menjadi pekerjaan rumah di Bojonegoro. Minat generasi muda untuk menekuni sektor pertanian dinilai belum tumbuh optimal. Salah satu pemicunya adalah pandangan orang tua yang tidak ingin anak mereka mengikuti jejak sebagai petani.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro (Unigoro) Darsan mengatakan, terdapat sejumlah faktor yang membuat generasi muda kurang tertarik terjun ke sektor pertanian. Salah satunya berasal dari keluarga sendiri.

Menurut dia, sebagian orang tua masih menganggap profesi petani kurang menjanjikan sehingga tidak menginginkan anaknya meneruskan pekerjaan tersebut.

Advertisement

Selain itu, Bojonegoro selama ini identik sebagai daerah lumbung pangan. Komoditas utama yang banyak ditanam petani adalah padi dan jagung. Namun, dari sisi efisiensi ekonomi, kedua komoditas tersebut masih tergolong sedang hingga rendah.

Kondisi tersebut membuat pendapatan petani sangat bergantung pada kebijakan pemerintah, terutama terkait harga komoditas. Agar mampu memperoleh penghasilan yang layak dari pertanian, petani membutuhkan lahan relatif luas.

Advertisement

"Sedangkan, luas lahan petani Bojonegoro lebih dari 60 persen di bawah setengah hektare. Sehingga, kaum muda tidak tertarik menjadi petani karena hidupnya tidak layak," terangnya.

Darsan menawarkan sejumlah solusi untuk menarik minat generasi muda. Salah satunya dengan menerapkan smart farming atau pertanian berbasis teknologi.

Menurut dia, penerapan teknologi dapat memberikan tantangan baru bagi anak muda sekaligus membuat sektor pertanian lebih menarik. Petani muda juga berpeluang memiliki usaha sampingan karena sejumlah proses pertanian dapat dilakukan dengan lebih efisien. Selain penerapan teknologi, pemerintah dinilai perlu memperkuat pelatihan pemasaran produk pertanian dan produk olahannya. Langkah tersebut penting agar petani muda tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah.

"Sehingga bisa meningkatkan nilai tambah produk petani muda yang akhirnya menaikkan pendapatan," tambahnya.

Di sisi lain, minat generasi muda untuk menjadi petani memang belum sepenuhnya tumbuh. Puji, generasi milenial asal Kecamatan Temayang, mengaku tidak terlalu berminat menjadikan sektor pertanian sebagai pekerjaan utama. (ewi/zim)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kemarau Mulai Mereda, Panen Tembakau di Bojonegoro Hampir Tuntas

Kemarau Mulai Mereda, Panen Tembakau di Bojonegoro Hampir Tuntas

Teriknya matahari mulai mereda. Terganti dengan mendung dan hujan yang turun beberapa hari terakhir. Meski hujan merupakan salah satu tantangan yang bisa mengakibatkan tanaman tembakau mati karena kelebihan air.

Kelompok Tani di Blora Terus Bertambah

Kelompok Tani di Blora Terus Bertambah

Jumlah kelompok tani (poktan) di Kabupaten Blora terus bertambah dalam tiga tahun terakhir. Hingga awal Oktober 2026, jumlahnya mencapai 2.923 kelompok yang tersebar di 16 kecamatan.

Opini: Mengurai Paradoks dan Ancaman Ekologis

Opini: Mengurai Paradoks dan Ancaman Ekologis

Pada Selasa, 20 Oktober 2026, Kabupaten Bojonegoro merayakan momentum bersejarah peringatan Hari Jadi ke-349 (HJB) yang ditandai dengan upacara khidmat di Alun-Alun Bojonegoro. Mengusung tema besar “Berdaya Saing dan Bertransformasi”.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer