Asesmen Lapangan UGGp Bojonegoro Tuntas, Asesor Terpikat Budaya Samin

Dewi Safitri • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 08:00 WIB
SURVEI LAPANGAN: Asesmen lapangan Aspiring UNESCO Global Geopark saat Geosite Wonocolo Hargomulyo. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
SURVEI LAPANGAN: Asesmen lapangan Aspiring UNESCO Global Geopark saat Geosite Wonocolo Hargomulyo. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Asesmen lapangan Aspiring UNESCO Global Geopark (UGGp) Bojonegoro telah berakhir di hari ketiga, kemarin (30/7).

Tak hanya meninjau potensi geologi, dua asesor UNESCO juga menyaksikan langsung kekayaan budaya masyarakat Samin yang menjadi bagian dari salah satu situs Geopark Bojonegoro.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Helmy Elisabeth menyampaikan, asesmen lapangan hanya tiga hari. Mulai Selasa (28/7) hingga Kamis (30/7). Di hari ketiga kemarin (30/7), sudah selesai dilakukan asesmen di lapangan.

Baca Juga: Asesor Unesco Telusuri Enam Situs Geopark Bojonegoro di Hari Kedua

‘’Asesmen yang ke lapangan hanya tiga hari, mulai Selasa, Rabu, dan Kamis. Besok (31/7) sudah tidak ke lapangan,’’ ujarnya kemarin (30/7).

Menurutnya, asesmen lapangan berjalan dengan lancar. Kegiatan yang dilakukan berjalan dengan baik.

Asesor UNESCO Mr. Andreas Josef Schüller dari Jerman dan Li Yue dari China, beserta rombongan mengawali asesmen lapangan di hari pertama, Selasa (28/7) pada situs-situs geopark di wilayah Barat. Dimulai pada Geosite Antiklin Kawengan, dengan peninjauan singkapan antiklin di sisi kiri dan kanan kawasan tersebut.

Baca Juga: Perkawinan Anak di Bojonegoro Jadi Lingkaran Sulit Diputus, Setengah Tahun Terdapat 141 Diska

Dilanjutkan dengan mengunjungi Rumah Singgah dan Museum Geopark Wonocolo, Kebun Alpukat, View Point Teksas Wonocolo, Geosite Wonocolo Hargomulyo, hingga diakhiri di Geosite Formasi Bulu.

Dilanjutkan di hari kedua, Rabu (29/7), asesmen lapangan dilakukan di Kedung Lantung, Sentra Batik Temayang, Hutan Jati Gondang, Banyu Kuning, Negeri Atas Angin, dan Kayangan Api.

Sedangkan, pada hari ketiga sekaligus terakhir, kemarin (30/7), asesmen lapangan dilakukan di tiga lokasi. Meliputi, Kebun Belimbing, SD Pancungan, dan Margomulyo.

Salah satu lokasi yang meninggalkan kesan mendalam bagi asesor adalah kawasan budaya Samin di Desa Jepang, Kecamatan Margomulyo. Di Balai Budaya, rombongan disambut alunan musik oklik. Kemudian, dilanjutkan dengan penampilan karawitan yang dimainkan para pelajar SD, SMP, hingga SMK. Dan, foto bersama.

‘’Setelah itu, kami ajak ke rumah keluarga. Melihat proses membatik, bahkan dua asesor UNESCO tersebut juga ikut belajar membatik,’’ kata Bambang Sutrisno penerus ajaran Samin.

Inovasi berbasis potensi lokal berupa Uwi Ungu, varietas yang telah ditetapkan sebagai varietas lokal juga tampil dalam asesmen lapangan tersebut. Tidak hanya sebagai hasil pertanian, tetapi juga dikembangkan menjadi motif batik Sulur Ungu serta diolah menjadi beragam kuliner. Asesor UNESCO pun disuguhi uwi ungu rebus dan berbagai olahan lainnya. Menurut Bambang, kedua asesor tampak menikmati sajian tersebut.

‘’Dibuat motif batik. Ketika masuk rumah, disuguhkan Uwi Ungu yang sudah masak. Ada yang original maupun yang diolah menjadi makanan-makanan modern. Dan, beliau (dua asesor UNESCO) menikmatinya, satu piring hampir habis,’’ beber Generasi ke lima sekaligus bungsu mediang Mbah Harjo Kardi tersebut dengan antusias.

Baca Juga: Calon Kades Petahana Wajib Cuti Jika Pilkades Digelar Sebelum SK Berakhir

Menurutnya, dua Asesor dari UNESCO tersebut menikmati waktunya ketika berkunjung ke Kampung Samin. Bahkan, terlihat sangat menikmati apa yang tersuguhkan. Baik warisan budaya maupun makanan lokalnya.

‘’Beliau menikmati makanan, suguhan, sajian, dan suasananya. Malah sampai overtime. Keluar dari sini sekitar jam 14.00 WIB,’’ tambahnya.

Dengan adanya asesmen ini, teringat akan pesan sesepuh. Bahwa, sampai kapanpun, tinggal berapapun, pasti akan dicari. Dan, kini itu terbukti. Ketika dulu orang memiliki pemikiran negatif tentang Samin. Kami bertahan, tanpa klarifikasi, dan saat ini semua terbukti. Termasuk dengan masuknya Samin sebagai salah satu situs Geopark.

‘’Kunjungan ini membuktikan image negatif mulai terkikis. Harapannya, semoga bermanfaat untuk masyarakat Bojonegoro khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Semoga kami selaku generasi penerus, bisa tetap nguri-nguri sampai kapanpun,’’ pungkasnya. (ewi/msu)

Editor : Hakam Alghivari
Asessmen Budaya Samin bojonegoro Global geopark unesco