Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Radar History: Ketika Komisi B DPRD Bojonegoro Pantau Minyak Tanah

Yana Dwi Kurniya Wati • Minggu, 14 Juni 2026 | 11:15 WIB
ANTRE: Arsip Radar Bojonegoro 4 Juni 2005 tentang antrean minyak tanah. (DOK. RADAR BOJONEGORO) 
ANTRE: Arsip Radar Bojonegoro 4 Juni 2005 tentang antrean minyak tanah. (DOK. RADAR BOJONEGORO) 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kelangkaan minyak tanah 21 tahun silam mendapat banyak perhatian dari berbagai pihak. Sudah tugas pemerintah mengatasi hal tersebut. Berdasar arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro edisi 6 Juni 2005, dua anggota Komisi B DPRD melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pangkalan minyak tanah saat itu.

Sidak dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebab kelangkaan minyak tanah di beberapa wilayah di Bojonegoro. Usai melakukan sidak, Wakil Ketua Komisi B Budiono mengaku berharap Pertamina bisa memberikan pasokan tambahan minyak tanah kepada sejumlah pangkalan dan agen-agen minyak tanah se-Bojonegoro.

Baca Juga: Radar History: Saat Siswa SDN I Donan Terpaksa Belajar tanpa Bangku Akibat Ambruknya Ruang Kelas pada 2005 Lalu

Sebab, selama ini pasokan yang diberikan sangat terbatas, sementara jumlah konsumen semakin meningkat. "Apalagi, pada hari libur dan hari besar, pasokan tidak ada. Sehingga mereka mengeluhkan minimnya pasokan," jelas Budi.

Dia menambahkan, tingginya jumlah permintaan yang membuat stok minyak tanah cepat habis itu salah satunya adalah karena petani lebih senang menggunakan bahan bakar minyak tanah dibandingkan solar untuk menghidupkan mesin diesel.

Bahan bakar solar saat ini memang lebih mahal dibandingkan minyak tanah. "Tapi, mau bagaimana lagi wong harga BBM memang naik," katanya didampingi Muryanto, anggota komisi B.

Baca Juga: Radar History: Ketika Bojonegoro Digegerkan dengan Dugaan Kasus Virus SARS pada 2003

Saat itu, lanjut Budi, solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi terbatasnya stok minyak tanah adalah dengan meminta pengusaha peminjaman diesel yang selama itu menggunakan bahan bakar irex (campuran antara oli dan minyak tanah untuk mesin diesel) mengajukan paso kan minyak tanah langsung ke Depo Pertamina. Sehingga, mereka tidak membeli di agen-agen.

Hanya, pengajuan itu harus melalui mekanisme yang ada. Yakni, mengajukan kepada kepala desa setempat, kemudian di tandatangani camat masing-masing dan bupati. "Saya pikir,ini solusi yang agak rasional kalau kita ingin menekan kelangkaan minyak itu," tambahnya.

Baca Juga: Radar History: Ketika Bojonegoro Digegerkan dengan Dugaan Kasus Virus SARS pada 2003

Selain itu, terang Budi, komisinya juga mendesak agar instansi terkait, yakni dinas perdagangan (disperindag) agar menjembatani pengusaha irigasi yang menggunakan bahan bakar minyak tanah untuk kebutuhan irigasi untuk bisa mendapakan pasokan minyak tanah.

"Kalau mereka (pengusaha, red) mendapat pasokan minyak tanah sendiri, tentunya pasokan minyak tanah di pangkalan bisa dikhususkan kepada rumah tangga sehingga kelangkaan minyak tidak ada," jelasnya. (yna/msu)

Editor : Hakam Alghivari
#kelangkaan #bojonegoro #minyak tanah #Radar History #komisi b dprd