RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Alun-alun Bojonegoro akan direhab. Tentu saja akan membutuhkan dana besar karena arealnya cukup luas. Tapi ada yang meresahkan. Jangan-jangan yang dikejar hanya keindahan visual semata, sementara fungsi ekologisnya tergerus. Bayangkan jika pohon-pohon besar yang selama ini jadi payung raksasa kota ditebang, lalu diganti beton panas dan lampu warna-warni—maka alun-alun bisa berubah jadi plaza kaku yang gersang.
Padahal, alun-alun Bojonegoro hari ini adalah paru-paru kota. Suasananya rindang, sejuk, dan jadi titik refreshing murah meriah. Banyak warga menikmati jogging, duduk santai, atau sekadar berteduh di bawah pohon-pohon besar. Inilah kekuatan sejati alun-alun—ruang publik hidup dan ramah lingkungan.
Namun, geliat proyek revitalisasi seringkali terjebak “sindrom estetika”: pohon dianggap penghalang pemandangan, lalu ditebang demi paving luas atau taman minimalis yang tak teduh. Contoh kasus serupa sudah banyak di kota lain—alun-alun jadi indah difoto, tapi panas ditempati.
PR RTH: Fakta di Balik Pembangunan
Menurut dokumen tata ruang, Bojonegoro seharusnya memiliki 13 hektare hutan kota. Kenyataannya? Baru 1,6 hektare yang terwujud—alias hanya sekitar 14 persen. Artinya, Bojonegoro masih jauh dari target ideal 30 persen ruang terbuka hijau (RTH) untuk kota. Jika alun-alun yang sudah hijau justru digunduli, defisit RTH akan makin parah.
Data ini jelas menunjukkan bahwa setiap pohon di alun-alun memiliki nilai vital, bukan sekadar penghias. Mengorbankannya sama saja bunuh diri ekologis.
Dana Besar, Tapi Untuk Apa?
Publik berhak tahu berapa besarnya dana yang digelontorkan. Paket proyek sudah mulai muncul di LPSE, misalnya pengadaan floodlight. Tapi bagaimana dengan anggaran untuk perawatan pohon, penambahan vegetasi, atau teknologi penyerapan air hujan? Apakah porsi terbesarnya justru hanya untuk pencahayaan dan ornamen?
APBD Bojonegoro 2025 mencapai lebih dari Rp7 triliun lebih. Dengan angka sebesar itu, warga punya hak menuntut agar rehabilitasi alun-alun tidak hanya indah di brosur, tapi juga menyehatkan warganya.
Risiko “Alun-Alun Plastik”
Jika desain hanya mengejar estetika, risiko yang mengintai jelas:
- Naiknya suhu permukaan karena dominasi beton. Padahal Bojonegoro sudah dikenal sebagai kota panas.
- Hilangnya keteduhan yang selama ini jadi daya tarik.
- Berkurangnya kualitas udara akibat berkurangnya pohon penyerap polutan.
- Turunnya kunjungan warga karena tempatnya jadi tak nyaman.
Sehingga alun-alun bisa berubah jadi ruang artifisial: bagus di kamera, tapi ditinggalkan warga.
Warga Harus Kawal, Jangan Sekadar Nonton
Proses rehabilitasi alun-alun Bojonegoro harus dikawal sejak awal. Pemkab boleh bicara soal komitmen menjaga RTH, tapi warga harus menagih bukti nyata di lapangan. Inventarisasi pohon harus diumumkan, rencana desain harus transparan, dan pengawasan harus ketat.
Satu pohon besar yang hilang, butuh puluhan tahun untuk kembali tumbuh sepadan. Jangan biarkan keputusan tergesa-gesa membuat Bojonegoro kehilangan identitas alun-alun hijau. (feb)
Editor : Hakam Alghivari