Bencana akibat eksplorasi minyak dan gas (migas) pernah terjadi di Bojonegoro pada 28 Juli 2006 silam, berlangsung tengah malam sekitar 23.50. Bencana berupa semburan gas dan ledakan di Sumur Minyak Sukowati.
Berdasarkan dokumen Jawa Pos Radar Bojonegoro, bencana tersebut terjadi ketika semburan gas tak terkendali kemudian dibakar oleh pihak pengelola lapangan minyak, yaitu Joint Operting Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ).
Kobaran api menimbulkan getaran dan suara gemuruh yang keras. Bencana tersebut berdampak pada tiga desa di dua kecamatan. Tepatnya Desa Ngampel, dan Sambiroto di Kecamatan Kapas, serta Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro Kota.
Bahkan 109 warga harus dirawat di RSUD Sosodoro Djatikoesomo dan Puskesmas Kapas. Sedangkan ribuan warga lainnya diungsikan ke Gedung Serbaguna, Lemcadika, hingga Balai Desa Sambiroto.
Beberapa warga sempat pingsan dan sebagian mual hingga muntah karena menghirup gas beracun hidrogen sulfida (H2S). Gas tersebut keluar tak terkendali dari proses pengeboran di sumur minyak Sukowati.
Dirham yang saat itu menjabat Sekretaris Desa (Sekdes) Sambiroto, Kecamatan Kapas mengatakan kejadian berawal sekitar pukul 23.50 Jumat, 28 Juli 2006. Kala itu, di sumur minyak tersebut ada ledakan disertai letupan api. Namun api tak terlalu besar.
Tak lama kemudian kepulan asap muncul di dua titik. Setelah itu Sabtu, 29 Juli 2006 pukul 00.10 terjadi ledakan disertai kobaran api besar. Api baru bisa dikendalikan pada Sabtu pagi pukul 05.00.
Baca Juga: Radar History: Menapak Tilas Kembali Banjir Bojonegoro 2007-2008, Sempat Lumpuhkan Sendi Kehidupan
Ledakan tersebut membuat warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri bersama keluarga. Ada yang menggunakan motor, gerobak, mobil, pikup, serta truk. Juga dievakuasi oleh ambulan milik Puskesmas Kapas.
Terlebih sebagian warga pingsan, pusing, mual, dan muntah karena menghirup gas H2S. Mobil Polres turut mengevakuasi warga.
Jumlah pengungsi mencapai 700 warga desa Campurejo di Gedung Serbaguna, 1.600 warga Desa Sambiroto di Gedung Lemcadikan, dan 600 warga Desa Ngampel di balai desa setempat.
Pada Sabtu, 29 Juli 2006, sebagian warga yang mengungsi mulai pulang ke rumah masing-masing. Namun warga kembali panik ketika mendengar kabar rencana pembakaran gas lagi. Sehingga beberapa warga memilih kembali mengungsi.
Terlebih sabtu malam satu warga dikabarkan meninggal, diduga akibat menghirup gas H2S. Warga bernama Ngatijo berusia 54 tahun tesebut merupakan warga Desa Campurejo.
Field Manager PetroChina Victory yang saat itu dijabat Surya K. Menyatakan kejadian tersebut akibat penyimpangan dari kondisi normal. Tepatnya ketika bor mencapai kedalaman 6.143 kaki, lumpur penahan yang dimasukkan ke sumur hilang dan tidak bisa menahan laju gas.
Dampaknya gas yang berkekuatan 1.500 pound per secuery (PSY) tak bisa lagi ditahan. Bahkan gas H2S tersebut kemudian menyembul ke mulut sumur serta menimbulkan dentuman keras yang diikuti letupan api.
Namun mulut sumur segera ditutup dan gas dialirkan ke separator untuk memisahkan lumpur dan gas. Gas kemudian disalurkan ke pipa pembuangan. Akibatknya semburan minyak keluar ke saluran pembuangan. Sehingga mendemari udara hingga radius 500 meter dari titik pengeboran. Kebocoran gas tersebut juga menimbulkan suara berisik dan mirip suara mesin jet dalam jarak dekat. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana