Banjir Desember 2007 hingga Januari 2008 telah melumpuhkan sendi kehidupan. Luapan Bengawan Solo itu merendam jalur transportasi di Lamongan, Tuban, Bojonegoro hingga Blora.
Banjir 2007-2008 tentu masih terngiang dalam ingatan pembaca setia Jawa Pos Radar Bojonegoro. Jalur transportasi putus, jalan nasional dan rel kereta api tergenang.
Melansir dokumen Jawa Pos Radar Bojonegoro 1 Januari 2008, jalan raya di perbatasan Bojonegoro-Lamongan tak bisa digunakan karena banjir mulai mengalir deras ke wilayah timur Bojonegoro.
Jalur itu putus di Desa Gadjah, Kecamatan Baureno. Berbatas dengan Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan.
Ketinggian air mencapai 40 sentimeter (cm) melebihi tanggul. Menjadikan jalur transportasi tak dapat dilewati kendaraan. Sementara rel KA juga tak dapat digunakan karena terendam air. Rumah terendam pun terus bertambah.
Akibat banjir besar itu desa terpencil sulit dievakuasi seperti di Kecamatan Kanor. Ribuan korban banjir terjebak di rumahnya masing-masing dengan aktivitas terbatas. Sebab, ketinggian hampir 1,5 meter.
Banjir akibat luasan Sungai Bengawan Solo inipun diakui bupati sebagai banjir terbesar. Saat itu Bojonegoro dipimpin Bupati Bojonegoro M. Santoso. Bupati menjelaskan, sekitar 100 kilometer (KM) wilayah Bojonegoro dilewati aliran Bengawan Solo.
Baca Juga: Imbas Terhantam Banjir, Jembatan Penghubung Antardesa di Blora Longsor
“Banjir ini adalah terbesar. Debit air mencapai 4.500 meter kubik per detik. Sementara yang tercatat pada 1992 adalah 2.880 meter kubik per detik,” ujarnya.
Dalam arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro itu mendokumentasikan kondisi warga korban banjir kelaparan. Ratusan hewan ternak memenuhi bahu jalan raya. Tak sedikit warga mengungsi di posko pengungsian.
“Rasanya saya masih tidak percaya bisa keluar dari rumah sejak tiga hari lalu diterjang banjir,” ucap Suparti, 40, salah satu korban banjir.
Menurut Suparti, ia bersama dua ribu lebih warga lainnya tak pernah menyangka banjir besar menenggelamkan desanya, Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor.
Dia menceritakan, air dengan volume besar menggenangi rumahnya sekitar pukul 22.30. Menurutnya, air masuk rumah terlalu deras. Karena kejadian yang begitu cepat membuatnya tak sempat berpikir menyelamatkan seluruh barang berharga.
Ia bersama suami berinisiatif menumpuk dipan dan meja serta benda lainnya agar terhindar dari genangan. Baru beberapa saat kemudian ia baru terpikir hewan ternak peliharaannya di kandang rumah.
Dia menambahkan, keesokan harinya bantuan logistik dan pertolongan tak kunjung datang. Karena itu, dia berusaha mencari beras simpanannya yang terlanjur tenggelam. Dia mengaku, dalam beberapa waktu dirinya dan keluarga hanya makan nasi putih dan lauk seadanya dari tetangga.
Selain menipisnya persediaan makanan, wabah akibat banjir mulai menyebar di desa setempat. Beberapa balita dan anak-anak mulai mengeluhkan badannya panas. Sebagian mengaku gatal-gatal.Hingga akhirnya bantuan datang.
Bantuan datang dari berbagai kalangan. Di antaranya PT Bintang Toedjo, Alumni 76 SMPN Lamongan, alumni 80 SMPN Lamongan. Mereka mendatangai biro Radar Lamongan di Lamongan sebagai posko penyalur bantuan. (yna/msu)