BLORA, Radar Bojonegoro - Tinggi Muka Air (TMA) Cepu masih siaga hijau. Sempat alami kenaikan, tapi hingga sore kemarin (17/12) tren TMA cenderung turun. Hal itu disebabkan sembilan pintu Bendungan Gerak yang ada di Bojonegoro dibuka.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora terus pantau Bengawan Solo hingga malam hari saat musim penghujan masih melanda di Blora. Operator Data dan Informasi BPBD Blora Agung Triyono mengungkapkan, TMA di Cepu sempat alami kenaikan pada Senin (16/12) hingga pagi kemarin (17/12)
Namun, dari pantauan hingga sore kemarin, TMA cenderung turun menjadi 22,05 meter. ’’Untuk saat ini, masih siaga hijau. Karena masih di bawah 22,63 meter,” jelasnya. Triyono mengatakan, dibukanya sembilan pintu air Bendungan Gerak di Bojonegoro disinyalir berdampak pada penurunan TMA Cepu.
Sementara, dari pantauan di hulu, seperti Ngawi kemarin juga cenderung turun, dengan status siaga kuning. ’’Untuk di Cepu dan sekitarnya air Bengawan Solo belum sampai memasuki perkampungan,” tegasnya.
Pihaknya mengatakan, TMA Cepu sewaktu-waktu bisa berubah. Terlebih, saat ini, masih musim penghujan. Berdasar informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), untuk wilayah Blora diprediksi masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang. ’’Kami siap siaga melaporkan per jam,” katanya.
Ia mengatakan, semenjak air bengawan naik. Tim BPBD Blora terus memantau situasi dan kondisi TMA, bahkan hingga malam. ’’Malam hari tetap kami pantau,” katanya.
Dio Febriansyah salah satu warga Balun, Kecamatan Cepu mengaku semenjak ada tanggul, banjir dari luapan air sungai tidak pernah dijumpai. Terakhir, banjir dari luapan sungai itu pada 2007 silam. ’’Setelah itu, kalau banjir di Cepu karena air hujan,” tambahnya. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana