Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Puncak Musim Penghujan, Waspada Banjir dan Longsor: BPBD Blora Telah Petakan Daerah Potensi Bencana

Yuan Edo Ramadhana • Selasa, 10 Desember 2024 | 21:30 WIB
TANAH LONGSOR: Pascahujan, petugas BPBD Blora mengecek longsoran di Desa Ngampel, Kecamatan Blora, Kamis lalu (5/12). (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
TANAH LONGSOR: Pascahujan, petugas BPBD Blora mengecek longsoran di Desa Ngampel, Kecamatan Blora, Kamis lalu (5/12). (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

BLORA, Radar Bojonegoro - Potensi bencana hidrometeorologi pada musim penghujan jadi atensi pemerintah daerah. Sebanyak 575 ribu jiwa berada di wilayah rawan bencana. Sehingga, masyarakat senantiasa waspada risiko bencana. Tercatat selama satu tahun terakhir banyak bencana melanda, kerugian ditaksir mencapai Rp 1,18 miliar.

Guna mengantisipasi hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro diminta petakan risiko bencana yang mengintai daerah. Wakil Bupati Tri Yuli Setyowati menjelaskan, dari hasil inventarisasi kejadian bencana sejak Oktober 2023 sampai November 2024 telah terjadi puluhan kejadian bencana alam yang menyebabkan kerusakan.

Tercatat lima kali banjir, 26 kali angin kencang, dan 12 kejadian tanah longsor. ’’Kami mengimbau masyarakat Blora untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi cuaca ekstrem,” ungkapnya saat apel siaga bencana di alun-alun Blora.

Etik, sapaan akrabnya, melanjutkan, bencana yang terjadi tersebut menyebabkan 15 rumah rusak berat, 30 rumah rusak sedang, dan 81 rumah rusak ringan. Selain itu, tiga jembatan rusak, empat fasilitas umum terendam banjir. ’’Jika ditaksir kerugian sekitar Rp 1,18 miliar,” bebernya.

Pihaknya mengatakan, puncak musim hujan diperkirakan pada Desember 2024 dan Februari 2025. Berpotensi meningkatnya bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor. Sehingga, BPBD Blora diminta segera meningkatkan perlindungan kepada masyarakat.

’’Menginformasikan dan memetakan kebutuhan peralatan dan logistik yang mampu untuk pelayanan masyarakat,” katanya.

Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Blora Abdul Mukhid mengungkapkan, pihaknya telah memetakan potensi bencana banjir. Di Blora, daerah rawan banjir genangan dan banjir bandang ada di enam kecamatan. Yakni, Kecamatan Todanan, Randublatung, Cepu, Sambong, Kedungtuban, dan Kradenan.

’’Sementara, untuk angin topan rerata tahun ini berada di wilayah selatan seperti Kecamatan Jati, Randublatung, Kedungtuban dan Kradenan,” ungkapnya. Mukhid mengatakan, berdasar hasil kajian risiko bencana BPBD Blora, tercatat 575.551 jiwa berada di daerah rawan bencana.

Pihaknya telah menginformasikan risiko tersebut dengan menggandeng berapa elemen dari kecamatan hingga desa. ’’Kami sudah mapping kesiapan peralatan, logistik untuk kesiapsiagaan bencana,” pungkasnya. (luk/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#potensi bencana #Bencana #BPBD Blora #banjir #Bencana hidrometeorologi #Wakil Bupati Blora #risiko bencana #bpbd #musim penghujan #blora #Tri Yuli Setyowati #tanah longsor #angin topan