Upaya Modifikasi Cuaca Gagal Turunkan Hujan, Hanya Hasilkan Sedikit Potensi
Yuan Edo Ramadhana• Senin, 19 Agustus 2024 | 19:38 WIB
ilustrasi krisis air
BERAGAM upaya dilakukan untuk mengatasi kekeringan di Bojonegoro. Salah satunya, dengan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada Senin lalu (12/8). Namun, upaya untuk meningkatkan curah hujan tersebut, belum berhasil turunkan hujan.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Tuban Zem Irianto menyampaikan, bahwa ada OMC di atas langit Bojonegoro, tepatnya mulai 9-12 Agustus. Hal tersebut untuk mengatasi kekeringan. ’’Memang ada laporan kekeringan di Bojonegoro, akhirnya OMC dilakukan untuk menurunkan hujan,” terang pria asal Jayapura, Papua itu.
Namun, upaya tersebut belum berhasil mengatasi kekeringan, khususnya titik operasi di Bojonegoro bagian barat. ’’Dari beberapa hari dilaksanakan modifikasi cuaca, hanya menghasilkan hujan di hari pertama, namun intensitasnya kecil,” bebernya.
Zem menambahkan, bahwa operasi dilakukan melalui pesawat yang diterbangkan dari Bandara Ngloram, Kabupaten Blora. Upaya menurunkan hujan dengan penyemaian awan tersebut, akhirnya dihentikan karena kecilnya potensi.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Laela Nor Aeny menambahkan, bahwa OMC tidak berjalan maksimal dan hanya menghasilkan 0,1 mm awan potensi hujan. Sedianya upaya tersebut untuk mengatasi krisis air bersih di desa-desa dan meningkatkan debit air di waduk dan embung. ’’Tidak berjalan maksimal, karena cuaca tak mendukung,” terangnya.
Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Peasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPKPCK) Bojonegoro Iwan Maulana mengatakan, terdapat 112 titik peningkatan air bersih tahun ini.
Setiap satu titik untuk sekitar 200 KK. ’’Sehingga, total terdapat sekitar 22.400 KK akan teraliri dari program peningkatan air bersih tahun ini. Dengan total anggaran sekitar Rp 30,5 miliar,” jelas Iwan.
Peningkatan air bersih itu merupakan program pengelolaan dan pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM) jaringan perpipaan himpunan penduduk pemakai air minum (HIPPAM). ’’(Program tersebut) untuk membantu mengurangi daerah-daerah kekeringan di Bojonegoro,” pungkasnya. (dan/ewi/bgs)