Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Darmono, Petani asal Desa Wotan, Kecamatan Sumberrejo, Naik Turun Harga Tak Membuat Petani Berhenti Menanam

Hakam Alghivari • Senin, 4 Maret 2024 | 19:55 WIB
GIAT: Darmono, saat beraktivitas di sawah miliknya di Desa wotan, Kecamatan Sumberrejo.Naiknya harga Beras, tak lantas membuat petani sejahtera. (IST/RDR.BJN)
GIAT: Darmono, saat beraktivitas di sawah miliknya di Desa wotan, Kecamatan Sumberrejo.Naiknya harga Beras, tak lantas membuat petani sejahtera. (IST/RDR.BJN)

Lonjakan harga beras dianggap menguntungkan petani belakangan ini. Namun, tak demikian bagi Darmono, petani asal Desa Wotan Kecamatan Sumberrejo, yang justru menerima dengan lapang naik dan turunnya harga. Sebab, naik atau tidaknya tak membuatnya berhenti menanam.

DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro


DARMONO, tampak aktif membagikan aktivitas bertaninya di sosial media. Namun, ternyata tak hanya di dunia maya. Saat Jawa Pos Radar Bojonegoro mencoba menghubungi, dirinya begitu ramah. Petani asal Desa Wotan, Kecamatan Sumberrejo tersebut, tentu merasakan dampak naiknya harga beras akhir-akhir ini.

Namun, tak hanya dampak harga beras, melainkan profesi petani yang tengah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat secara luas. ’’Padahal petani juga orangnya menerima apa adanya, murah larang tetep tanam (murah atau mahal tetap menanam). Juga tidak protes ke pemerintah bila harga panen murah,” ungkap Darmono. 

Meski menurutnya, harga beras yang mencapai Rp 15.000 per kilogram, cukup sebanding dengan harga yang dikeluarkan petani sendiri. Sebab, biaya tanam mulai bibit, perawatan hingga panen dikeluarkan setiap bulannya cukup tinggi.

Namun, dirinya menyadari bahwa harga-harga tersebut akan menimbulkan polemik jika mengalami kenaikan. ’’Harga bahan pokok memang sulit mahal. Karena mahal sedikit (pemerintah) langsung impor, dan rakyat mengeluh ke pemerintah,” ujarnya.

Menurutnya, ekonomi Indonesia akan bangkit dan maju mulai dari bawah yakni, di tingkat petani. Terlebih mulai dari pupuk mudah dan murah, hingga saat panen harganya stabil meski tidak terlalu murah.

’’Otomatis jika petani sejahtera, toko, warung, supermarket akan ramai. Sampai ke atas akan sejahtera,” pintanya. Meski harapan tersebut, kerap terbentur kenyataan di lapangan. Sebab, meski harga sempat tinggi, namun dirinya justru mulai menerima kabar sudah masuknya beras impor.

Hal tersebut seakan membolak-balikkan perasaan petani. ’’Seharusnya jangan dulu, tiga bulan lebih merawat padi. Mau panen, malah impor,” keluhnya. Bahkan, dirinya berharap, pemerintah membeli saja gabah dari petani lokal. Selain menguntungkan juga kualitasnya lebih bagus.

Hal itu tentu tak sebanding dengan kualitas beras impor. Bahkan, menurutnya, rerata orang desa yang diberi bantuan beras impor justru tidak dimakan. Tapi, dijual lagi. Karena kualitasnya jauh di bawah beras lokal. ’’Biar petani sejahtera, tapi ya mau bagaimana lagi kalau maunya begitu,” ungkapnya. (*/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#beras #Petani #harga #bojonegoro