Nuril Huda meninggalkan jejak-jejak kebaikan. Salah satu tokoh pendiri organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini dikenal banyak melahirkan santri yang menjadi tokoh nasional.
AHMAD ASIP ALAFI, Lamongan, Radar Lamongan
SALAH satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pendiri organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), KH. Nuril Huda menghembuskan nafas terakhir, Rabu (20/12). Hal itu memberikan duka mendalam bagi keluarga dan santri-santrinya. Semasa hidup, beliu merupakan sosok yang mengabadikan diri di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum di Desa Daliwangun, Kecamatan Sugio.
Putra kedua almarhum, H. Rofiqul Umam menceritakan, beliau sudah nyantri di Langitan, ceramah, dan aktif berorganisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) pada usia 16 tahun. Setelah itu, KH. Nuril Huda sudah menjadi penceramah di luar kota sejak berusia 20 tahun.
‘’Ada tetangga saya menyampaikan, kalau dulu waktu santri di Merangen berjalan kaki bersama teman-temannya, hanya untuk mendengarkan ceramah Pak Nuril Huda. Jadi jalan kaki berkilo-kilometer hanya ingin mendengar ceramah bapak (KH. Nuril Huda, Red),’’ ujar Rofiq, sapaan akrabnya.
Rofiq mengatakan, almarhum berjalan dari kampung halamannya menuju Ponpes Langitan jalan kaki sekitar 25 kilometer (km). Bahkan, menurut dia, Ibunda KH. Nuril Huda membekali dengan beras dan nasi aking untuk digoreng di Ponpes Langitan.
‘’Kemudian setelah selesai di pesantren, lalu melanjutkan di Universitas Nahdlatul Ulama di Solo, sambil mondok di Pesantren Mangkuyudan Solo,’’ ujarnya.
Dia menjelaskan, salah satu titik berat KH. Nuril Huda yakni pengkaderan anak muda NU, terutama di PMII. Tujuannya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, serta berguna bagi nusa dan bangsa. Menurut dia, KH. Nuril Huda banyak melahirkan banyak santri yang menjadi tokoh nasional.
‘’Sehari-hari melalui tatap muka, maupun lewat terlepon ataupun lewat ceramah-ceramah, bapak saya selalu menekankan pentingnya menjadi kader PMII atau kader NU,’’ ucap Wakil Sekjen MUI pusat ini.
Rofiq menuturkan, KH. Nuril Huda menjabat Ketua Lembaga Dakwah NU Pusat selama dua periode semasa kepemimpinan KH. Hasyim Muzadi. Selama itu, KH. Nuril Huda saling berbagi pengalaman dan berinteraksi dengan anak muda NU. Mulai dari saling berbagi pengalaman dan memotivasi, hingga menyebar luarskan ilmu.
‘’Hingga mereka bisa berkembang sendiri-sendiri. Mudah-mudahan mereka masih ingat dengan pesan bapak saya, dan dijalankan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing,’’ katanya.
Selain itu, dia mengaku, KH. Nuril Huda berpesan agar anak muda NU memiliki integeritas tinggi. ‘’Termasuk jangan sampai korupsi itu pesannya. Guyonanya beliau, kalau kalian butuh uang, datang saja ke saya, nanti saya kasih, daripada korupsi,’’ ujar Wakil sekjen Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) ini. (*/ind)
Editor : Hakam Alghivari