Bojonegoro, masteguh.id - Usaha kripik usus milik Widya 50 tahun asal Desa Genjor Kecamatan Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro cukup mengiurkan, ia mendapat omset 15 juta setiap bulan.
Ia mulai merintis usaha keripik usus ini sejak tahun 2019, sudah sekitar lima tahun, dalam kurun waktu yang cukup lama tersebut ia sudah mengalami pasang surut dalam bisnis. Saat ini Ia mempekerjakan 10 karyawan yang semuanya ibu-ibu.
Mas Teguh berkesempatan mengunjungi tempat produksi usaha kripik usus milik Widya ini, terlihat kesibukan saat produksi, dimana semua dikerjakan oleh ibu-ibu . Mulai dari proses menggoreng sampai proses pengemasan, semua dikerjakan oleh ibu-ibu .
"Ini adalah ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan, semua dikerjakan oleh ibu-ibu," ujar Teguh Haryono atau yang biasa disapa Mas Teguh.
Namun banyak kendala yang harus dihadapi oleh Widya, terutama pemasaran, karena metode penasaran masih dengan sistem keliling dan dari mulut ke mulut, dan tergantung pesanan agen, dan di titipkan di warung-warung.
"Pemasaran harus menjadi perhatian, kerena masih tradisional, saat ini kan sudah zaman digital, jadi saya mendorong agar usaha kripik usus ini pemasarannya beralih ke teknologi digital, bisa lewat marketplace, medsos atau bisa buat web sendiri, nah ini harus ada pelatihan digital marketing," ucap Mas Teguh.
Menurut Widya, setiap hari ia mampu produksi keripik usus 40 Kg sampai 50 Kg usus ayam mentah yang berasal dari luar kabupaten, kemudian ia proses menjadi kripik usus yang gurih dan renyah.
"Setiap hari bahan baku usus yang saya proses sekitar 40-50 Kg," ujarnya.
Keripik usus Widya tersebut diberi nama Pujakesuma, keripik usus ini ternyata banyak diminati masyarakat, karena rasanya yang gurih dan renyah, selain itu harganya cukup terjangkau, hanya Rp. 1000 per bungkus. (Red)
Editor : Hakam Alghivari