BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pemblokiran jalan di Dusun Mangunan, Desa Duwel, Kecamatan Kedungadem, membuat warga bersitegang. Padahal, kasus sengketa lahan tersebut sudah berlarut-larut setahun lamanya, dan setidaknya telah dilakukan sekitar tujuh kali mediasi.
Puncaknya, warga setempat bernama Yoto, 50, melalukan penutupan jalan dengan batu bata kumpung setinggi 50 sentimeter dua minggu lalu.
Dampaknya, akses ke dua rumah tetangganya yakni Kalam dan Iwan terhalang, selain itu jalan tersebut juga akses warga ke sawah.
Kepala Desa (Kades) Duwel Ahmad Rifa’i mengatakan, kejadian bermula pada tahun lalu, adanya salah satu dari tiga warga yang terganggu karena tanah yang diklaim miliknya menjadi jalan lalu lalang menuju sawah desa, kemudian dilakukanlah pematokan. ’’Terkait pematokan ini sudah saya sampaikan. Tapi, katanya tanah milik pribadi,’’ katanya.
Bahkan sebelum peristiwa tersebut, pihak pemerintah desa (pemdes) sudah mediasi pertemuan hingga tujuh kali antara pihak berseteru. Namun, belum ada titik temunya. Puncaknya, dua warga lain yakni Kalam dan Iwan, tidak terima dan melakukan pembongkaran tembok pada Senin lalu (30/10).
Kapolsek Kedungadem Iptu Sholeh membenarkan adanya aksi penutupan jalan oleh warga. Namun, bukan dengan menembok jalan, melainkan dengan menumpuk batu kumbung. ’’Bukan ditembok, tapi dibatasi dengan batu kumbung,” terangnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Kejadian tersebut kemudian dilakukan mediasi yang juga hadir pihak pemerintah desa (pemdes) pada Senin (31/10). Akhirnya, kedua belah pihak yang berselisih disepakati akan menggunakan akses jalan lain.
Namun, Kalam juga diharuskan membayar ganti rugi perusakan senilai Rp 1 juta. ‘’Sudah ada upaya problem solving hingga mediasi,” ungkapnya.
Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Duwel Giyono mengatakan, hasilnya jalan tetap ditutup. Namun, rerata warga masih berharap bisa dibuka kembali. Meski disediakan jalan lain, warga lebih memilih jalan yang telah ditutup itu.
’’Karena jalan tersebut digunakan petani, sebagai jalan untuk mengangkut hasil panen setempat. Dampak dari penutupan jalan tersebut, petani kesusahan membawa pulang hasil panennya,’’ ungkapnya. (dan/msu)
Editor : Hakam Alghivari